Site icon SuaraJakarta.co

Pornografi No, Prestatif Yes!!!

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Sering kali kita mendengar dan melihat hal-hal yang berbau porno, baik disengaja ataupun tidak, kita selalu menghadapi hal ini. Secara tidak sadar efek negativ dari pornografi akan menimbulkan dampak yang besar pada diri kita, lingkungan kita dan bahkan ke tataran masalah pendidikan. Sekarang ini, dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin canggih, maka dengan mudah akses ke hal-hal yang berbau pornografi dari Negara lain yang berkebudayaan bebas bisa dengan mudah diketahui oleh siapapun, bahkan oleh anak kecil yang masih Sekolah Dasar sekalipun. Tidak jarang banyak anak-anak SD ataupun SMP yang mengakses situs-situs berbau porno. Ini menjadi masalah. Bahaya yang akan berdampak efek domino. Apabila sejak kecil sudah tahu akan hal-hal berbau porno, maka akan sulit mengembangkan otaknya ke jalan yang benar.

Pornografi menurut pakar psikologi Amerika, Dr. Randall F. Hyde,Ph.D menyebutkan bahwa bahayanya lebih parah dibanding bahaya Narkotika. Ahli bedah syarat dari Rumah Sakit San Antonio, Amerika Serikat Donald L. Hilton Jr, MD mengatakan bahwa adiksi (kecanduan) pornografi akan mengakibatkan otak bagian tengah depan (Ventral Tegmentasi Area) secara fisik akan mengecil. Apa fungsi dari otak tengah ini? Otak tengah ini mirip kerjanya seperti pusat komunikasi antar bagian otak. Informasi yang didapat dari panca indera diteruskan oleh otak tengah ke otak berfikir yang relevan. Jika otak tengah dalam keadaan aktif, semua informasi akan terdistribusi dengan baik. Tetapi apabila sudah kecanduan pornografi, maka kinerjanya akan lambat untuk menyampaikan atau mengirimkan sebuah informasi.

Dr. Randall F. Hyde,Ph.D mengatakan bahwa pornografi akan membuat empat hormon dalam otak di rusak cara kerjanya. Adapun hormon yang dirusak itu adalah dopamine, neuropiniphrin, serotonin dan oksitosin. Hormon-hormon ini jika bekerja secara teratur akan sangat menguntungkan, tetapi dengan pornografi maka hormone-hormon ini akan keluar secara berlebihan dan bekerja terus menerus. Dampak selanjutnya dari pornogarfi adalah merusak sel otak yang menyebabkan prilaku dan kemampuan intelegensia mengalami gangguan. Jelas bahwa penurunan intelegensia ini menurunkan produktivitas dan menurunkan kualitas Sumber Daya Manusia. Proses ini tidak terjadi secara cepat dalam waktu singkat, namun semua ini akan terjadi dalam beberapa tahap, yakni kecanduan yang ditandai dengan tindakan impusive, ekskalasi kecanduan, desentisasi dan penurunan perilaku.

Lalu yang menjadi pertanyaan selannjutnya adalah bagaimana kita ‘melepaskan diri’ dari pornografi? Jawabannya adalah beraktivitas yang positif dan jangan sampai ada waktu luang untuk menyendiri. Salah satu caranya adalah membangkitkan jiwa prestatif dalam diri. Kita bisa mengikuti kompetisi-kompetisi ataupun belajar kelompok dengan orang-orang yang memiliki visi positif. Dengan mengkuti kompetisi ataupun belajar dan bergaul dengan orang-orang yang berprestasi maka tidak ada waktu luang untuk memikirkan hal-hal negative apalagi pornografi. Selain untuk meningkatkan softskill kita, kompetisi juga memberikan peluang bagi kita untuk mendapatkan hadiah uang, yang bisa kita gunakan untuk membantu keuangan orang tua. Kita juga bisa memiliki teman baru ketika mengikuti kompetisi. Menambah jaringan dan uang. Jiwa kitapun terasah untuk terus maju dan berprestasi. Nah, oleh karena itu, mari dari sekarang kita jauhi pornografi dan isi waktu kita dengan terus berprestasi.

Penulis: Arip Perbawa, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran

Arip Perbawa

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Padjadjaran

Exit mobile version