Site icon SuaraJakarta.co

Jangan Pernah Melupakan Sejarah !

Salah seorang anggota komunitas sepeda ontel mengenakan pita merah putih pada peringatan Hari Pahlawan di Makan Pahlawan, Tangerang Selatan. (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

SuaraJakarta.co – Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan sejarahnya. Sebuah kutipan dari bapak orator kita, Bapak Ir.Soekarno. Bangsa Indonesia , bangsa yang memiliki bermacam suku dan budaya dan terus menjadi sorotan dunia. Menjadi Negara yang bersatu adalah sebuah perjuangan besar yang sejak lama menjadi cita cita bangsa ini. Tanggal 10 November di peringati sebagai hari pahlawan, baik pahlawan revolusi, pahlawan nasional maupun pahlawan pahlawan dari berbagai latar belakang daerah.

Melihat sejarah nampaknya semakin kesini bangsa Indonesia jarang melhat atau mungkin mempelajari tentang sejarahnya perjuangan negeri seribu pulau ini. Banyak dari kita bahkan remaja sekalipun melupakan sosok pahlawan Indonesia. Padahal jika salah satu pahlawan saja dijadikan seebagai idola maka siapa sangka aka nada pahlawan baru muncul di era yang serba teknologi ini

Mengutip dari kalimat bapak mantan presiden kita yang pertama lagi, bapak Ir.Soekarno bahwa saat ini perjuangan kita untuk Negara kita sangat sulit ketimbang berjuang pada dulu kala, sebab perjuangan kita adalah melawan bangsa kita sendiri. Bukan maksud kekerasan namun melawan bangsa kita sendiri adalah melawan kemiskinan, kemelaratan, kebodoha yang di derita oleh rakyat rakyat Indonesia. Melawan bahkan memberantas saja sangat sulit. Diperlukan semua peran agar segala permasalahan di Negara kita dapat terselesaikan.

Polemik Negara kita sebagian besar karena factor dari rakyat itu sendiri. Tidak menaati hukum yang berlaku, berbuat curang sana kemari, pergaulan bebas pada remaja, angka putus sekolah yang meningkat serta kasus criminal yang tiap hari menjadi semakin rumit dan panjang. Ini tak lain dan tak bukan karena rakyat ini belum sepenuhnya menghargai terhadap Negara ini. Mereka menganggap bahwa tugas untuk mengurus dan memajukan suatu Negara adalah pemerintahan. Padahal bukan seperti itu. Kita tahu, bahwa setiap unsure yang tinggal di Negara kita Indonesia menjadi peranan penting dalam membangun pembangunan nasional ini.

Berbagai masalah tentu ada jalan keluar yang harus di tempuh. Butuh perjuangan lebih serta energy yang terkurasa akan semakin banyak mengingat pertumbuhan Indonesia semakin hari semakin meningkat. Jangan mengubah system yang sudah berlaku namun mulai perbaiki dari hal kecil contohnya untuk selalu menanamkan rasa cinta tanah air dengan seluruh jiwa dan raga, bukan hanya para pelajar dan pemuda namun semua elemen masyarakat yang tergabung menjadi kewajiban memiliki cinta tanah air. Sebagai wujud rasa cinta hal yang sederhana yang dapat kita lakukan dengan menjaga kelestarian alam ini dan tidak merusaknya. Ini juga sebagai rasa syukur kepada tuhan atas semua rahmat dan hidayahNya. Selain menjaganya kita turut andil untuk memperbaikinya.

Selain menjaga alam tentu perlu adanaya pengetahuan pengetahuan baru tentang bangsa ini terlebih untuk megenal jauh tentang pahlawan pahlawan Indonesia. Indonesia banyak memilki situs sejarah di berbagai daerah oleh sebab itu setiap situs sejarah perlu untuk memperbaiki sarana dan prasarana situs sejarah yang menjadi objek wisata eduksasi dan memberikan ilmu baru untuk siapa saja yang berkunjung.

Ada satu hal lagi yang harus di perhatikan yaitu mengenai sikap dan moral kita sebagai moral Indonesia yang berakhlak mulia, ramah juga santun. Perilaku menjadi indicator keberhasilan tentang bagaimana cara memajukan Negara ini. Tanpa memiliki attude yang baik, percayalah bahwa akan banyak Negara yang tak mau mengenal jauh tentang Indonesia.

Karena menjadi bangsa yang besar bukan hanya melihat tentang bagaimana tantangan selanjutnya namun selalu melihat sejarah yang telah di ukir oleh jasa jasa para pahlawan sebagai batu loncatanmerancang startegi yang lebih baik. Bangsa ini merindukan sosok sosok pahlawan yang dapat memajukan Negara ini. Dan pastikan bahwa kau adalah pahlawan itu, duhai pemuda pemudi Indonesia.

Penulis: Devi Adia, Mahasiswa Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Exit mobile version