Jangan Nodai Pendidikan Bangsa, Stop Tawuran Pelajar!

SuaraJakarta.co, NAMA seorang “pelajar” seolah-olah tidak pantas disandang oleh orang-orang yang perilakunya tidak mencerminkan anak-anak yang terpelajar, dan berpendidikan. Akhir-akhir ini di Indonesia sering terjadi peristiwa tawuran yang sangat terekspose oleh media, karena ada beberapa siswa yang meninggal dunia akibat tawuran ini, walaupun sebenarnya perilaku tawuran ini sudah sangat sering terjadi di kalangan pelajar Indonesia. Akibatnya nama sekolah dan guru-guru tersebut menjadi buruk. Biasanya peristiwa tawuran ini terjadi karena hal-hal sepele seperti ejek-mengejek antar sekolah, karena masalah perempuan, ataupun karena provokasi oleh pihak-pihak tertentu.

Menurut keterangan dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, dalam 9 bulan ini telah terjadi 20 peristiwa tawuran di Jakarta pusat, ini harusnya menjadi bahan acuan bagi kepolisian untuk meningkatkan pengawasan di titik-titik yang biasanya terjadi peristiwa tawuran. Selain di Jakarta pusat peristiwa tawuran ini juga marak terjadi di daerah lainnya di Indonesia yang juga mengakibatkan kematian.

“Pendidikan karakter masih jauh panggang dari api. Kalau sudah begini, pelaku tawuran sama dengan teroris, karena sudah menciptakan suasana teror dimana-mana, menanamkan bibit-bibit dendam dan kebencian” kurang lebih inilah yang dikatakan oleh Raihan Iskandar yang menjabat sebagai anggota DPR Komisi X. ini membuktikan bahwa sebenarnya syste pendidikan di Indonesia harusnya diperbaiki, tidak hanya mengasah otak kiri saja dengan hafalan-hafalan, hitung-hitungan, dan sebagainya, tetapi juga mengasah otak kanan para pelajar yang sasarannya adalah perilaku, perasaan, dan sensitifitas hati mereka.

Ternyata selain para pelajar yang suka dengan aksi-aksi tawuran, ada juga para pelajar yang tidak suka dan protes dengan terjadinya aksi-aksi tawuran yang marak terjadi, seperti aksi siswa SMA Ta’miriyah Surabaya yang mengecam aksi tawuran di Jakarta. Oleh karena itu untuk mengurangi aksi-aksi tawuran seperti ini semakin meluas sebaiknya dinas pendidikan Indonesia mengumpulkan para pelajar, kepala sekolah, guru-guru untuk mencari jalan keluarnya, serta memperbaiki system.

Tidak hanya sekolah yang berperan untuk mencegah aksi tawuran ini, orang tua pun bertanggung jawab untuk menjaga perilaku anak-anak mereka sehingga para pelajar ini kembali ke fitrahnya menjadi kaum intelektual dan penerus generasi bangsa. [SJ/Foto: Istimewa]

Ahmad Alfazri* | Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Anggota Teater Syarekat Seni Faculteit Des Recht (SSFDR) Fakultas Hukum UNPAD, Peserta Beasiswa Program Pengembangan SDM Strategis Nurul Fikri Batch VI, Anggota Keluarga Mahasiswa Islam (GAMASIS) FH UNPAD.

One Response

Leave a Reply