SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Dua Hari Bersama Suku Samin

Suku ini biasa disebut “Masyarakat Samin”. Komunitas ini mirip semacam suku. Namanya sekaligus dijadikan nama suatau ajaran yang kini dikenal Saminisme. Prinsip hidup ini dipopulerkan seorang yang konon masih berdarah keluarga Kerajaan Majapahit, bernama Raden Kohar pada tahun 1880 an.
Raden Kohar Anom (Muda) memiliki kepribadian yang merdeka, tak mau diatur-atur dan Seorang Nasionalis yang bersahaja. Dia mengajak orang-orang disekitarnya untuk memboikot Belanda. Termasuk menolak bayar pajak, menjual hasil tani dan bekerjasama dengan “Kumpeni”.

Salah satu pernyataannya yang diajarkan pada Orang-orang Jawa bagian Tengah berbunyi, “Kita semua ini sama-sama (dalam bahasa jawa jadi “Sami”) orang Jawa, tapi kok diperintah orang yang beda dengan kita (Belanda = asing)”.

Akhirnya kampanye untuk berjuang berdasarkan kesamaan (sami) identitas menyebabkan dirinya dicap pembangkang dan ditetapkan buronan oleh Belanda Penjajah.

Kata sami yang artinya sama (merujuk pada gerakannya yang mengajak orang-orang Jawa sebagai sama-sama satu identitas) seringkali disematkan Penjajah Belanda untuk kepentingan politik. Belanda menjulukinya gerakan “pemberontakan” Saminisme; yaitu memanfaatkan kesamaan suku untuk menentang Belanda.

Perjuangan Raden Kohar (Samin Soerosentiko) bukannya tidak mendapat kesulitan. Banyak orang pribumi yang tak berani melawan dan terpaksa menuruti perintah Kolonial. Mereka dihasut Belanda untuk memusuhi Raden Kohar dan pendukungnya. Belanda menjuluki barisan perlawanan ini dengan julukan “Kaum Sami(n)”, (dibaca:Samin). Sering pula Belanda mengejeknya dengan panggilan “Si Orang Samin Pembangkang”.

Nah dari situ timbul istilah gerakan Saminisme. Mereka yang yang simpatik atas perlawanan tersebut biasanya menggandengkan dengan panggilan Samin Soerosentiko (Soero : berani, sentiko : sanggup). Kalau dijabarkan, artinya ajaran yang menggunakan kesamaan identitas untuk membangun keberanian perlawanan dan sanggup konsisten memberontak pada Penjajahan kolonial asing.

Akhirnya mereka dikenal sebagai kaum Samin Soerosentiko, suatu komunitas tersendiri yang agak berbeda dari orang Jawa kebanyakan.

Mereka tidak beragama Islam formal seperti yang kita dapat lihat hari ini, tapi komunitas ini memegang erat ajaran Saminisme yang penuh nilai-nilai toleransi, gotong royong, perdamaian dan nilai kerukunan dalam hidup. Pengetahuan ini kami dapat langsung dari Tokoh dan ketua adat Samin saat kami petualangan ke Suku Samin beberapa waktu yang lalu.
Hari itu kami berangkat berempat, dengan naik motor meluncur dari rumahku Jl. Terate Desa Pekuwon, Kec. Rengel, Kabupaten Tuban. Tepat pukul 15:30 WIB. Waktu itu tanggal 9 Juli 2016. Aku bersama Bung Faiz Saiful Rizal (Aktivis HMI Cabang Tuban), Farid Atho’illah (Mahasiswa Ekonomi Universitas Muhammadiyah Gresik) dan Joko Santoso (Pendekar Silat IKSPI KERA SAKTI). Kami berempat adalah kawan sejawat dalam berpetualang. Tepat sore hari, usai sholat ashar, kami berangkat menuju dusun Njepang, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro.

Sesampainya ditengah perkampungan yang lebih mirip hutan, tepat diwilayah menuju Suku Samin. Kira-kira pukul 20;00 WIB, kami langsung bertanya kepada warga. Sebelumnya kami sama sekali tidak mempunyai kenalan orang Samin atau warga setempat. Berbekal informasi dari internet, kami berempat nekad menyelinap masuk ke wilayah Suku ini. kami sedapat mungkin mencari tahu agar kami mendapat informasi harus kemana dan menemui siapa jika telah benar-benar masuk ke wilayah orang Samin.

Berpura-pura menanyakan arah jalan, kami akhirnya bertanya ke sebuah toko yang menjual anek produk industri seperti parfum, sabun, bolpoint atau jajan-jajan anak. Berbekal bertanya ngalor-ngidul, Warga Penjaga Toko tersebut menginformasikan tentang tokoh yang harus kami temui pertama kali dan ancer-ancer rumah Kepala Suku disana. Akhirnya muncullah nama Mbah Harjo Kardi.

Setelah sampai di rumah tokoh tersebut, berdasarkan dari buku keturunan dan paparannya. Ternyata beliau adalah keturunan ketiga dari titisan Samin Soerosentiko (Pendiri Ajaran Saminisme) yang masih hidup dan menjadi tokoh kaum Samin sekarang. Kedudukannya sebagai penjaga moral, saksi sejarah dan bapak bagi kamu muda Samin. Dia bertutur, “mbiyen Jepang yen njajah ten mriki, kulo niki pun angon wedos ten saben” (dulu pas Jepang mulai menjajah daerahku sini, Aku sudah menggembala kambing disawah). Dia menegaskan kalau umurnya sudah tidak muda lagi. Bahkan sebelum Republik ini berdiri, Dia sudah dilahirkan.

Kami bertamu dan diterima dengan ramah oleh si Mbah. Dengan unggah-ungguh keramahan khas adat Jawa Tengah-an, Mbah Harjo menanyakan maksud kedatangan kami satu per satu.

Pada awal perbincangan kami, sebenarnya kami merasa kaget. Sebelumnya kami berasumsi kalau orang Samin tinggal digubuk-gubuk, dengan pakaian unik khas adat dan gaya hidup yang masih tradisional, tapi anggapan kami salah seratus delapan puluh derajat.

Bayangan yang men-judge kalau mereka anti-modernisme adalah salah besar. Ternyata cerita orang dan data-data yang tersebar di media, yang betebaran memberitakan bahwa suku Samin atau “tiang” Samin (tiang dalam bahasa Jawa artinya “Orang”) tidak mau sekolah, menolak pembangunan, membangkang bayar pajak dan tidak pro pada teknologi adalah informasi sesat.

Buktinya, Mbah Harjo Kardi, si kepala Adat Suku Samin adalah perokok berat, minum kopi kemasan industri, memakai baju buatan pabrik, punya Teve, Magic Jar, meubel hingga mesin traktor dan gilingan padi-jagung.

Bahkan pada tahun 1970 an, sebelum Pemerintah Republik membangun, atas inisiatif Mbah Harjo masyarakat Samin setempat secara swadaya dan gotong royong mendirikan sendiri sebuah Sekolah Dasar yang saat ini bernama SD MARGOMULYO II.

Sebelum berangkat, kami sempat mencemaskan keadaan disana. Kami takut, letak perkampungan yang berada di hutan belantara akan menyulitkan kami mencari makan atau warung. Sehingga sebelum berangkat ke sana, kami sempat membawa bekal makanan dan air putih yang cukup banyak. Takut disana sangat terpencil sehingga tidak ada air, makanan yang layak atau air bersih dll. Tapi seketika apa yang kami bawa tidak berguna karena Ketua adat telah menjamu lebih dari cukup. Kami disambut dengan baik dan terjamin kebutuhan badaniah.

Kami diterima dengan senyum yang ramah oleh Kepala Adat dan disuguhi kopi hitam. Hal itu diperlengkap sajian makanan, camilan berupa ubi rebus dan dipersilahkan menginap dirumah Kepala Suku. Yang unik dari Mbah Harjo, beliau yang lahir tahun 1934 ternyata tak pernah sekalipun mengenyam bangku sekolah, tapi anehnya, beliau banyak dikunjungi Pejabat tinggi untuk berkonsultasi soal cara memimpin dan mempergunakan kekuasaan.

Mulai dari Bupati Bojonegoro, Komandan Kodim, Hatta Rajasa (Menteri era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono), rombongan pimpinan Ulama Jawa Timur dan Pendeta, hingga turis dari Belanda. Semua pernah bertamu dirumahnya.
Beliau juga punya burung perkutut 7 ekor yang masing-masing punya nama tersendiri. Percaya atau tidak, kalau Mbah Harjo memanggil nama si burung, burung tersebut serta merta langsung “ndagel” (berkicau). Si Mbah juga miara burung Merak yang langka, itu Ia dapat saat menemukan telor merak dan akhirnya dibawa pulang untuk dierami ayamnya. Akhirnya menetaslah anak merak, dan dirawat serta tumbuh dengan baik ditangan beliau.

Berkat keteguhan dan kesahajaannya mempertahankan ajaran Samin, Mbah Harjo sering mendapat bantuan dari Pemerintah. Tapi seringkali bantuan (uang dan modal) ditolaknya jika harus diambil di kantor Pemerintah Daerah.

Baginya, jika dia diberi sesuatu oleh Pemerintah dan harus mengambilnya di kantor, itu sama saja dia meminta (mengemis). Oleh karenanya dia tidak mau, kalau mau ya Pemerintah yang ke rumahnya jika niat memberi bantuan. Orang Samin pantang mengemis. Orang Samin harus mandiri dan hidup dari usaha sendiri (meski tidak menolak pemberian dari oranglain yang berniat baik dan dilakukan dengan cara yang bijak).
Saat kami menginap disana saja, tiap malam pintu rumah mereka tak perlu ditutup atau dikunci, karena orang-orang di dusun tersebut sadar betul arti ajaran tidak boleh mencuri.

Konon, barang seorang yang terjatuh dijalan akan diambil seorang warga dan seketika si penemunya mengajak warga lainnya untuk bersama-sama mencari pemiliknya agar bisa segera dikembalikan. Disana tidak ada pencuri atau maling. Karena mencuri adalah simbol ketidakpunyaan harga diri dan etika.

Disana tidak ada Pos Ronda, Satpam atau rumah berpagar tinggi. Motor berserta helm pun kami taruh diluar semalaman dan alhamdulillah aman-aman saja.

Gambaran kami tentang Kaum Samin yang terbelakang dan tradisional ternyata salah, mereka ternyata telah sangat maju. Maju terutama dalam hal tegaknya moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan rumah Ketua Adat Mbah Harjo Kardi, jauh lebih baik dan megah daripada rumahku sendiri, hehehe.
Jika kami rangkum, ada beberapa ajaran pokok “Tiang” Samin yang masih dijunjung tinggi hingga kini, antara lain:

1. Orang Samin harus patuh pada Pemerintah.
2. Orang Samin tak boleh mencuri dan berkata bohong.
3. Orang Samin harus jujur dan mengedepankan gotong-royong.
4. Orang Samin memberi pinjaman tanpa bunga dan membayar hutang sebesar nominal yang dipinjam (berlawanan dengan bank konvensional).
5. Mereka tak mengenal Agama secara kelembagaan, ajaran mereka berbasis perilaku yang baik, mulia, damai, rukun dan penuh kebersamaan (islami).
6. Meskipun mereka tidak beragama Islam seperti kita, justru mereka yang membangunkan masjid bagi masyarakat di wilayah tersebut yang beragama Islam.
7. Karena opsi agama dari negara cuma tersedia 6, maka bagi orang Samin mereka terserah mau dimasukkan dikolom beragama Kristen, Hindu atau Islam sekalipun. Karena bagi mereka, beragama itu bukan tentang mengaku-ngaku atau mengklaim secara formal, tapi harus mampu dibuktikan atau dipraktikkan dengan perilaku nyata sehari-hari.
8. Memang betul mereka radikal dan pemberontak, tapi itu hanya ketika tanah mereka dijajah Belanda-Jepang. Tapi pasca kemerdekaan, mereka tunduk dan taat pada Negara karena Pemerintahnya sudah dipegang oleh orang Indonesia sendiri.
9. Setiap orang Samin harus mandiri, itu sebabnya Mbah Harjo secara otodidak mengasah keterampilan menjadi pengrajin meubel, tas, “pande” sabit-cangkul dan petani yang gigih.

Demikian laporan dari penyelidikan kami berempat selama tanggal 9-10 Juli 2016. Semoga setelah membaca ini, makin banyak orang yang peduli pada suku-suku minoritas yang ada di Indonesia. Terima kasih. Salam Merdeka!!

Penulis: Muhammad Mualimin (Aktivis HMI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *