Pembunuhan Di Hari Pendidikan - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Pembunuhan Di Hari Pendidikan

Foto: IST

SuaraJakarta.co, OPINI – Tahun 2016, tepatnya pada tanggal 2 Mei, benar-benar merupakan mimpi buruk bagi dunia pendidikan di Indonesia. Waktu yang sebenarnya sakral, dimana detik demi detik merefleksi pada cita-cita salah seorang pejuang pendidikan nasional, justru disentakkan oleh sebuah peristiwa berdarah.

Tragedi terjadi di Medan, yaitu di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Bunda ‘Ain, seorang dosen sepuh (usia 63 tahun) yang sekaligus mantan dekan FKIP UMSU, tewas dibunuh oleh mahasiswanya sendiri. Sungguh tak habis pikir. Bahkan seekor hewan buas pun tidak akan tega memangsa anak atau induknya sendiri. Tapi ini manusia, dan juga kampus yang menjadi simbol pengetahuan serta jalinan lembut di antara manusia yang mengerti kebenaran.

“Respon seorang mahasiswa ketika berkonflik dengan dosennya menggambarkan bagaimana perilakunya terhadap ibu atau ayahnya sendiri,” demikian ungkap Irna Minauli seorang psikolog senior di media massa. Ini semakin membuktikan apa yang sering saya katakan pada mahasiswa, bahwa pendidikan adalah sebuah sistem yang saling kait-mengait. Sekolah, masyarakat, orang tua serta media tidak dapat dilepas.

Manusia adalah makhluk yang paling mulia. Tapi kemuliaan itu dapat tenggelam dalam air comberan yang hina, salah satunya jika kita terbiasa menuruti emosi. Hati dan pikiran menjadi buta, tertutup dari cahaya.

Kita diingatkan oleh seorang arif bijaksana bernama Luqman Hakim, yang ajarannya diabadikan dalam Al-Qur’an, tentang betapa pentingnya mengajari anak-anak patuh kepada Allah dan hormat kepada kedua orang tua. Saya yakin ini adalah kunci pendidikan yang tidak bisa ditawar dan diabaikan. Cara bisa berbeda, namun inti nilai tersebut menjadi penentu keberhasilan kita dalam proses memanusiakan manusia.

BACA JUGA  Catatan Narasi Kecil, Rangkaian "Perlawanan" Mahasiswa-Rakyat Mei '1998, di Jakarta

Di sisi lain, orang tua dan guru juga harus dapat menjadi figur yang layak untuk dihormati. Untuk itulah saya dan anda harus sering “bercermin.”

Penulis: Habibi, S.Si, M.Pd, Dosen Universitas Wiraraja, Sumenep, FKIP Prodi IPA dan Dosen Institut Dirosah Islamiyah Al Amien Sumenep, Madura.

Tagged

Related Posts

Leave a Reply