SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Minimart Muslim

Foto: IST

Oleh: Jaharuddin*

Dalam salah satu grup WhatsApp seorang anggota menawarkan investasi mendirikan salah satu minimart muslim dengan konsep urunan modal. Dibutuhkan modal sekitar Rp750 juta, respon salah satu anggota grup sebagai berikut:

“Hehehe jujur saya ga tertarik. Kenapa? Krn itu sulit melawan yang besar. Mau butuh modal berapa? 7 eleven aja keok. Kenapa? 1. Ketika sdh besar biasanya pemain-pemainnya tutup keran distribusi. Contoh. Tadinya dapat jatah aqua 8 dus giliran laku kerannya dikecilkan bukan justru ditambah. Jadi 4 atau 3 dus. Ini real. Bagi yg awam ga masuk akal. 2. Alfa dan indomaret behind the scenenya itu orangnya sama. Pemiliknya ya itu)itu saja. Jadi mereka bukan saingan dalam arti tertentu. Hulu hilir ya dari mereka-mereka juga. Kalau suruh invest sayang duit segitu malah justru menguap. Ngabis-ngabisin duit. Ga gitu cara melawannya,”

Yang lain menimpali begini:

“Senada dengan pendapat di atas, dengan mengumpulkan uang masyarakat dari banyak orang seperti shadaqo mart, saya merasa jika ini gagal bisa jadi masalah tersendiri”.

“Mengharapkan masyarakat membeli karena ikutan “emosional” bisa jadi belum tentu bertahan lama (ini perlu diteliti lebih lanjut)”.

Dan direspon oleh yang menawarkan begini:

“Dari awal kan mereka sudah dijelaskan. Ketika akan membangun ekonomi Islam yang masih trial and error mereka harus siap gagal dan bisa menerima. Jadi kami tidak bicara manis. Tapi bicara perjuangannya”.

Direspon lagi begini :

“Sip, Itulah kenapa harus siap. Jangan menembak burung dengan meriam peluru besar cuma 1 pula itupun sudah all out. Alangkah baiknya tembak dengan senapan berpeluru banyak dengan bidikan jitu. Efektif dan efisien”

BACA JUGA  Energi Alternatif VS Konsumsi BBM

—————–
Saya jadi teringat diskusi beberapa pekan yang lalu, di lingkungan tempat tinggal saya sedang dibangun minimart muslim, dengan cara urunan modal masyarakat, semakin banyak masyarakat ikut semakin baik?, diasumsikan semakin banyak konsumen yang akan beli di minimart muslim tersebut. Dibutuhkan sekitar Rp.750 juta untuk modal awal.

Langkah ini merupakan pengembangan ekonomi umat, keberlanjutan gairah umat memperbaiki ekonomi paska aksi 212.

Pada dasarnya umat mendukung dengan antusias hadirnya berbagai bentuk implementasi ekonomi umat, di tengah penguasaan ekonomi oleh pihak lain. Nyatanya ekonomi umat Islam pelakunya sebagian besar bukan umat Islam. Padahal konsumennya adalah umat Islam.

Berkumpulnya 7 juta muslim pada saat 212 memberi energi kepada umat islam bahwa bisa berpadu dalam barisan.

Saat politik dan pemilik modal non muslim negeri ini berpadu dalam kepentingan, umat semakin menyadari realitas ekonomi dikuasai non muslim, menjadi ancaman serius bukan hanya ekonomi, juga akidah umat.

Suasana inilah yang diduga juga berkontribusi dalam menangnya, calon umat Islam di DKI.

Suasana ini pulalah yang melahirkan berbagai ide ekonomi yang sekarang digulirkan dengan berbagai pola dan bentuk, salah satunya Minimarket.

Semangat ini bisa jadi energi bagi umat untuk berkontribusi.

Nah, potensi ini perlu dirawat dan direncanakan dengan baik termasuk mitigasi risiko, karena ketika usaha umat berhasil akan menjadi cerita sukses, jika sebaliknya bisa jadi trauma yang berkepanjangan seolah-olah umat Islam tidak bisa berserikat dalam ekonomi.

Untuk itu para pengelola ekonomi umat benar-benar merencanakan dengan matang, melibatkan para ahli dan profesional .

Buatlah bisnis model yang baik, sehingga kemungkinan gagal bisa diminimalisir. Memanfaatkan momentum umat yang sedang bergairah adalah sesuatu yang baik, namun belum tentu bertahan dengan lama.

BACA JUGA  Saatnya Tingkatkan Produktifitas Industri Pertahanan Dalam Negeri

Faktanya umat Islam selalu membanding bandingkan dan kritis terhadap pilihan ekonomi, dan akhirnya bisa jadi umat tetap saja membeli ke minimart yang dimiliki non muslim.

Beberapa fakta yang perlu dianalisis mendalam adalah belum tumbuhnya marketshare bank syariah yg masih di sekitar 5%, padahal umat muslim di Indonesia sekitar 80%, bukankah harusnya market share bank syariah itu 80%, jika semua umat Islam loyal dengan bank syariah? Banyak alasan yang bisa kita diskusikan.

Cek saja dompet kita, masihkah ada produk bank konvensional?

Juga masih ingat, boikot umat terhadap sari roti? Diawal boikot perusahaan tersebut sangat terganggu, seiring waktu tetap berjalan sampai hari ini.

Nah, berhati-hatilah jika memanfaatkan momentum emosional.

Alternatif Solusi

1. Umat mesti mendukung upaya perbaikan ekonomi umat, dan pastikan pengelola merencanakan dengan sangat baik, libatkan ahli dan profesional.

2. Lakukan penelitian agar Minimart muslim bisa berkelanjutan panjang dan menguntungkan.

3. Dalam era revolusi industri ke 4 ditandai dengan perubahan yang cepat, seringkali persaingan tidak dari usaha sejenis. Ini bisa jadi inspirasi digitalisasi ekonomi dalam bentuk menghadirkan Mall Online umat Islam, yanf bisa jadi dengan modal yang lebih kecil dan efektif, jadi belum tentu menandingi indomaret dan alfamart, dengan cara membuat usaha sejenis.

4. Mulai gerakan cash wakaf, dana wakaf dikumpulkan, dikelola oleh nadzhir profesional, diawasi oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI), setelah cukup dananya, beli minimart yang sekarang eksis dengan dana wakaf dan dikelola profesional. ini memang butuh waktu, tapi harus dimulai.

*) Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Muhammadiyah Jakarta(UMJ) /Ketua Pusat Inkubator Bisnis dan Kewirausahaan (PIBK) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

Leave a Reply