SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Ketika Pengamat Politik Bicara Hukum Soal Pemakzulan Ahok

Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia, Prof. Dr. Tjipta Lesmana. (Foto: IST)

Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia, Prof. Dr. Tjipta Lesmana. (Foto: IST)

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Berbeda dengan pandangan dari Pakar Hukum Tata Negara Irman Putra Sidin, pakar komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Tjipta Lesmana, pun ikut mengomentari perihal etika dan moral seorang pemimpin dengan didasarkan pada konteks hukum, khususnya Tap MPR VI/2001.

Menurutnya, TAP MPR VI/2001, memang benar mengatur bahwa kepala daerah harus menjaga etika dan norma. Namun, peraturan tersebut, diakuinya, soal etika hanya menjadi faktor pendukung.

“Gubernur tidak bisa dijatuhkan karena soal etika. Soal etika hanya sebagai faktor pendukung”, kata Profesor politik tersebut di ruang rapat serbaguna Gedung DPRD DKI Jakarta, jumat (27/3), sebagaimana dikutip dari laman detik.com.

Profesor tersebut menambahkan bahwa Tap MPR tersebut belum bisa dijadikan dasar bagi DPRD untuk memakzulkan Ahok. Karena, menurutnya Tap MPR tersebut penjabaran dalam undang-undang.

“Tidak bisa (menggunakan TAP MPR untuk menjatuhkan Ahok). TAP MPR harus dijabarkan dalam undang-undang, dan undang-undang itu harus dicantumkan sanksi terhadap pelanggaran etika komunikas, dan sebagainya. Susah kalau itu diambil”, tuturnya.

BACA JUGA  Menteri Non Parpol Amran dan Jonan Cuma Banyak Bicara Dengan Prestasi Jeblok

Tagged , , , ,

Related Posts

One thought on “Ketika Pengamat Politik Bicara Hukum Soal Pemakzulan Ahok

  1. muherman harun

    MUSUH-MUSUH AHOK?
    Dalam hubungan antar manusia, selalu ada kawan, ada lawan atau kadang-kadang musuh bebuyutan. Demikian juga halnya dengan Pak Ahok Gubernur DKI Jakarta.
    Pak AHOK memiliki banyak penggemarnya. Jauh lebih banyak dari pada lawan-lawan politik yang memusuhinya (menurut elektabilitas Pak AHOK).
    Musuh-musuhnya ingin keroyok pak AHOK. Ingin menjelek-jelekkan nama dan reputasinya menjelang Pilgub DKI.. Musuh AHOK misalnya TV-ONE, JAKTV dan KOMPAS TV yang begitu senang untuk sering-sering menayangkan image AHOK yang ganas, murka, amat menyeramkan saat memaki-maki.
    Pak AHOK selalu digambarkan gampang marah.”AHOK Marah lagi, Marah lagi, Marah lagi” salah satu acara TV-ONE. Pada hal pak AHOK cukup santun saat menerima keluhan masyarakat setiap pagi sebelum masuk kantor, apalagi saat menghadapi tamu.

    Beliau manusia biasa, tentu saja bisa marah. Kepada siapa? Kepada semua orang? Puji syukur tidak demikian halnya. Tetapi, beliau marah besar kepada penipu, orang yang suka bohongi dia, orang yang ngeyel, apalagi kepada pejabat tak becus dan malas kerja, yang ingin merampas uang rakyat, pak AHOK bisa saja marah besar.

    Lebih baik seorang pemimpin yang suka marah karena alasan tepat dan tidak pernah melakukan korupsi dari pada pejabat yang selalu sopan santun tetapi doyan korupsi uang rakyat! Pak Amin Rais dan Pak Prabowo setuju, ‘kan?

Leave a Reply