Bagi-Bagi Sembako, Faktor Determinan Rendahnya Suara Ahok-Djarot - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Bagi-Bagi Sembako, Faktor Determinan Rendahnya Suara Ahok-Djarot

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Direktur Eksekutif Polmark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah menegaskan faktor determinan yang paling menurunkan elektabilitas Ahok-Djarot pada putaran kedua adalah soal bagi-bagi sembako di saat masa tenang.

“Ketika menurut saya penting, apa yang terjadi di akhir seperti masa tenang. Suasana kolektif yang mempengaruhi mereka, pada saat itu ada hujan sembako terjadi. Saya menduga secara kualitatif itu berfungsi negatif bagi yang berkampanye, itu pertama dalam sejarah pilkada membagikan sembako pada masa tenang dan memakai atribut kampanye,” jelas Eep dalam Diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (22/4).

Faktor lainnya, menurut Timses Anies-Sandi itu adalah karena terkarantinanya pemilih paslon nomor 2 tersebut. Maksudnya, adalah jumlah pemilih Ahok-Djarot tidak meningkat dan tidak mengecil. Padahal, pada putaran kedua tingkat partisipasi naik dibandingkan putaran pertama.

“Maksud terkarantina adalah jumlah atau besaran pemilih Basuki-Djarot tidak meningkat dan tidak mengecil di putaran kedua bahkan mengalami penurunan hampir 14 ribu pemilih,” ujar Alumni Fisip UI ini.
Selanjutnya, Eep mengatakan angka partisipasi meningkat dari 77% menjadi 78%. Ini mengulang seperti tahun 2012 yang naik 2%.

“Angka partisipasi meningkat dari 77% menjadi 78%. Dari putaran pertama ke putaran kedua mengalami peningkatan, bukan penurunan. Jadi mengulang tren 2012. Meningkat 2%. Sekarang meningkat satu koma sekian persen, peningkatan terjadi,” imbuh timses saat Jokowi-Ahok memenangi Pilgub DKI 2012.

BACA JUGA  Ini Amanah Presiden Jokowi kepada Tito Karnavian Pimpin Kepolisian

Faktor lainnya adalah perlawanan terhadap keunikan TPS atau potensi kejahatan kecurangan pemilu. Menurutnya, indikasi ini datang pada putaran pertama yang terkonsentrasi pada tempat-tempat paslon tertentu.

“Faktor selanjutnya adalah perlawanan terhadap keunikan TPS atau potensi kejahatan atau kecurangan pemilu. Di Jakarta ini ada 1.848 TPS yang terindikasi seperti itu. Indikasi itu datang dari pemilih tambahan, hampir 250 ribu DPTB pada putaran pertama. Itu terkonsentrasi di tempat-tempat yang paslon tertentu berpotensi menang besar, jadi bisa kita kaitkan kedua TPS,” imbuhnya.

Terakhir adalah faktor agama. Menurut Eep, itu memiliki pengaruh tertentu. Faktor agama dianggap sebagai air bah.

“Faktor agama tentu saja memiliki pengaruh tertentu dikarenakan Al-Maidah. Saya ingin bilang kalau faktor agama itu seperti air bah. Penyebabnya adalah bendungan yang dibuka. Jadi, kalau ada pemimpin yang menjaga lisannya, masuk ke isu sensitif di negeri seperti Indonesia, maka harus terima konsekuensinya,” tutup Eep. (RDB)

Tagged , ,

Related Posts

Leave a Reply