SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Gema Keadilan DKI Jakarta Desak Kanisuis Cabut Penghargaan Yang Disematkan Kepada Ananda Sukarlan

Wakil Ketua Dewan Kota Jakarta Pusat Ardy Purnawan Sani. (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Gema Keadilan DKI Jakarta mendesak agar pihak Kanisius mencabut penghargaan bidang kemanusiaan dan seni musik kepada Ananda Sukarlan. Pasalnya, sikap Ananda Sukarlan yang walk out saat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berpidato dalam acara Kolese Kanisius ke-90 itu dinilai tidak memanusiakan tamu undangan. Dalam hal ini, Anies diundang oleh panitia selaku Gubernur DKI Jakarta.

Ketua Gema Keadilan DKI Jakarta, Ardy Purnawan Sani mengatakan, pihaknya menuntut agar penghargaan yang disematkan kepada Ananda Sukarlan segera dicabut. Karena tidak layak penghargaan di bidang kemanusiaan namun peraihnya juatru tidak memanusiakan tamu (Anies).

“Menghormati dan memuliakan tamu merupakan refleksi dari intelektual dan attitude seseorang. Apalagi dia (Ananda Sukarlan) seorang penerima penghargaan di bidang kemanusiaan, seharusnya bisa jadi contoh yang baik,” ujar Ardy kepada suarajakarta.co, Rabu (15/11/2017).

Selain itu, Ardy menilai, sanksi yang diberikan kepada Ananda Sukarlan sebagai bentuk menekan sikap-sikap buruk yang menghancurkan persatuan.

“Sikap buruk Ananda Sukarlan jangan diapresaisi atau dibiarkan saja, karena bisa memicu perpecahan dan intoleransi di masyarakat Indonesia semakin tak terbendung,” ujar Ardy.

Menurut Ardy, sikap Ananda Sukarlan merupakan cerminan dari orang-orang yang tidak bisa berkompromi dengan keputusan demokrasi. Padahal, kemenangan Anies sebagai Gubernur DKI mutlak hasil pemilu kepada daerah.

“Ananda Sukarlan itu refleksi dari pendukung Ahok yang tidak terima dengan hasil demokrasi Pilkada DKI Jakarta,” pungkasnya.

Mendengar tanggapan Anies soal kejadian di Kanisius, Ardy mengapresiasi sikap Anies yang menunjukan dirinya sebagai muslim negarawan. Tidak menambah keruh suasana, dan mampu meredam emosi pendukungnya. Bahkan Anies menerima perbedaan sikap itu.

“Begitilah sikap seorang muslim negarawan. Mampu menerima perbedaan dengan jiwa yang tenang,” kata Ardy. (EDI)

BACA JUGA  Ratusan Pejabat di DKI Kembali Dirombak oleh Ahok

Leave a Reply