SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Pernyataan Sikap Politik Kaum Buruh Indonesia

Said Iqbal, Ketua KSPI tengah memberikan orasi di depan ratusan ribu buruh di GBK, Senayan Jakarta (1/5). (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

“Tidak ada pilihan lain bagi kaum buruh selain membangun alat politiknya sendiri”

Pemilu demi pemilu telah kita lewati, partai demi partai pernah kita dukung, Janji demi janji selalu diingkari, Rezim pemerintahan silih berganti. Namun, kemerosotan ekonomi dan politik di negeri ini tidak kunjung menuju perbaikan. Hampir tiap hari, acara-acara di televisi tak sepi dari berita mengenai kebijakan pemerintah yang jelas-jelas tidak populer dan tidak berpihak kepada rakyat. Tidak hanya tingkah polah para pejabat korup, Partai-partai politik di parlemen sibuk berebut jatah anggaran.

Sejak Indonesia merdeka hingga hari ini rakyat belum pernah merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Pemerintahan yang terpilih dalam pemilu pasca kehancuran Orde Baru tidak membawa perubahan fundamental yang berkelanjutan bagi kehidupan ekonomi dan politik rakyat. Meskipun pada pemerintahan sekarang rakyat bebas untuk bersuara, namun suara-suara rakyat ini hanyalah menjadi kicauan-kicauan yang tidak berpengaruh bagi pemerintahan dalam menentukan kebijakan.

Pernahkah kita menjadi pemilik dari setiap sumur minyak yang setiap hari ratusan ribu barel di sedot dan dialirkan ke kilang-kilang minyak? Pernahkah kita menjadi pemilik dari setiap ribuan hektar perkebunan karet, sawit dan tanaman lainnya di Sumatra? Pernahkah kita menjadi pemilik dari kawasan-kawasan tambang tembaga, nikel dan emas di NTT dan Papua? Pernahkah kita membangun Industrialisasi yang mampu menjadi penyangga ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara Industri Maju? Pernahkah negara melindungi para petani ketika perusahaan-perusahaan besar menyerobot tanah garapannya? Jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan itu adalah TIDAK. Lalu pertanyaannya kemudian adalah, bisakah kita melakukannya? Bisa, tapi jika, dan hanya jika Pemerintahannya lahir dari rahim rakyat, dari sebuah partai yang lahir dari gerakan rakyat.

BACA JUGA  MayDay, Rekan Indonesia Desak Jokowi Hentikan Peraturan BPJS yang Menyulitkan Buruh

Sudah waktunya kelas buruh memiliki wadah politiknya sendiri. Paradigma yang terbangun di dalam pikiran buruh harus lebih maju. Kelas buruh harus semakin memantapkan langkah lebih maju dari masyarakat umum dalam menyikapi situasi politik yang akan datang.

Pada awalnya kaum buruh mulai bergerak dari tuntutan-tuntutan yang hanya bersifat ekonomi kemudian bergerak kepada tuntutan yang bersifat politik. Ini adalah keniscayaan. Kesadaran kaum buruh kini telah bergerak maju. Kami kaum buruh Indonesia telah memantapkan diri. Kami akan membangun alat politik kami sendiri, yang memperjuangkan secara konsisten kebutuhan-kebutuhan mendesak rakyat.

Namun, kami sadar tidak ada jalan lurus menuju pembentukan partai buruh semacam ini. Karena ia harus dibentuk oleh massa buruh luas, lewat serikat-serikat buruh independen, dan juga pelibatan secara aktif organisasi-organisasi rakyat yang lainnya seperti serikat tani, organisasi perempuan, mahasiswa dan pemuda, dan gerakan rakyat lainnya.

Melalui partai yang akan kami bentuk ini, kami tidak hanya berjuang untuk tuntutan ekonomi saja seperti upah minimum yang layak untuk buruh, tanah garapan dan pupuk untuk petani, pendidikan gratis hingga Perguruan Tinggi, tetapi juga berbagai tuntutan demokratik seperti kesetaraan bagi kaum perempuan, hak memilih dan dipilih, kebebasan berpendapat dan berorganisasi, perlindungan bagi kaum minoritas tertindas, dsbnya. Lewat partai yang akan dibangun nanti, maka kami rakyat Indonesia akan belajar berpolitik tanpa ada campur tangan elit-elit politik yang berkuasa saat ini.

Jakarta, 1 Mei 2015,
GERAKAN BURUH INDONESIA (GBI)

KSPI: Said Iqbak
KSPSI: Andi Gani N.
KSBSI: Mudhofir
KP-KPBI: Ilham Syah
FSPASI: Herry

Tagged ,

Related Posts

Leave a Reply