SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Padatnya Penduduk Menjadi Sebab Banyaknya Masalah di Johar Baru

SuaraJakarta.co, JAKARTA –
Di daerah Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat sering terjadi kasus tawuran. Hal itu disinyalir karena jumlah penduduk yang terbilang padat.

Dengan luas wilayah 2,37 kilometer persegi, jumlah penduduknya mencapai 108.047 jiwa (menurut sensus pada tahun 2010). Jumlah tersebut bisa membengkak dua kali lipat karena sensus tersebut belum memasukkan penduduk pendatang yang tinggal sementara di rumah sewa.

Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencantumkan terdapat 12 lokasi kumuh di empat kelurahan di Kecamatan Johar Baru. Lokasi kumuh tersebut berada di Kelurahan Johar Baru RW 01 dan RW 02; Kelurahan Kampung Rawa RW 02, RW 03, RW 04, dan RW 06; Kelurahan Galur RW 04 dan RW 07, serta Kelurahan Tanah Tinggi RW 04, RW 08, RW 09, dan RW 12.

Peneliti sosial dari Universitas Indonesia (UI) Daisy Indira Yasmine mengatakan bawa kepadatan penduduk di kecamatan tersebut membuat permasalahan di sana kian kompleks.

Menurutnya, beban hidup masyarakatnya, terutama anak-anak dan pemuda di Kecamatan Johar Baru kian berat lantaran semakin sempitnya ruang untuk bergerak dan menyampaikan aspirasinya.

“Jadi pemuda yang nongkrong di bibir-bibir gang bisa mudah tersinggung dengan kelompok pemuda di gang sebelah. Sehingga tersulutlah tawuran,” kata Daisy dalam diskusi di kecamatan Johar Baru, Selasa kemarin.

Dari jumlah penduduk yang terlalu padat serta sempitnya ruang berdampak pada perilaku masyarakatnya dan kulturalnya. Daisy menerangkan, bahwa anak-anak usia pelajar di Johar Baru cenderung malas untuk belajar dan berangkat ke sekolah.

“Itu karena dipengaruhi juga dengan pergaulan yang kurang baik. Mereka dipengaruhi oleh pemuda-pemuda lainnya yang suka tawuran dan lain sebagainya. Ini seperti lingkaran setan,” paparnya.

BACA JUGA  Dewan Kota Dan KUMKMP Sepakat Sarankan Penutupan Perlintasan Kereta Api Harus Dikaji Ulang

Oleh karena itu, dia menggagas perombakan lingkungan fisik di Kecamatan Johar Baru. Seperti misalnya memperindah kawasan dengan lukisan-lukisan mural di dinding-dinding rumah atau mempercantik lingkungan kumuh dengan menanam bunga.

Ia sangat percaya, perombakan fisik yang dia namakan Mengubah Wajah Kampung Johar Baru tersebut dapat mendorong perubahan mental dan perilaku warganya. “Saya percaya itu dan kalau ini berhasil juga akan berdampak kepada peningkatan ekonomi warga, karena bisa jadi kawasan wisata yang bagus. Contohnya Brazil dan Venezuela,” tuturnya.

Camat Johar Baru Abdul Choir menyambut baik usulan tersebut. Dia mengatakan pihaknya akan mendukung semua upaya untuk membuat masyarakat dan lingkungannya menjadi lebih baik. Namun dia berharap agar upaya tersebut juga melibatkan warga, terutama ketua RT dan RW setempat.
“Mereka juga harus dilibatkan jangan sampai pengecatan untuk bikin mural di sini tidak melibatkan mereka,” singkatnya.

Sementara Ketua Dewan Kota Jakpus, Ferry Iswan mengatakan, program ini diharapkan tidak hanya seremonial saja. “Riset rekomendasi itu bukan pada event atau pelatihan tapi bagaimana ada solusi kongkrit sesuai dengan tema berubah wajah kampung,” kata Ferry.

Ia juga berharap pertemuan diskusi dari kelompok pada acara ini dapat menjadi dasar dalam memacu percepatan wilayah Johar Baru.

“Kita berharap masyarakat tidak dijadikan objek, tapi subjek dalam melakukan pembangunan maupun kesejahteraan masyarakat Johar Baru,” tandasnya. (Van)

Leave a Reply