Catatan Dari Konser Revolusi Pancasila - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Catatan Dari Konser Revolusi Pancasila

Deklarasi Alumni KAMMI di Bandung, Sabtu (14/11/2015) | foto: suarajakarta.co

Oleh: Bambang Prayitno, Anggota Keluarga Alumni KAMMI. Catatan mewakili pribadi.

MOMEN peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni tahun ini, menjadi momen yang sangat istimewa. Karena tahun ini bertepatan dengan 70 tahun Kelahiran Pancasila dimana itu menjadi pengingat betapa -seharusnya- telah matangnya nilai Pancasila dalam kehidupan bangsa kita; dan dengan demikian juga, berarti kita harusnya sudah sampai pada tahap merealisasikan cita-cita purba rakyat nusantara yang tertuang dalam kalimat sederhana; ‘gemah ripah loh jinawi’, dimana Pancasila adalah jiwa perjalanan menuju itu.

Di tahun ini juga, beriring-sejalan dengan momentum kelahiran Pancasila, ada semacam gumpal kesadaran yang membesar dari elit politik negeri ini -yang terepresentasikan dalam lembaga DPR- akan tergerusnya nilai Pancasila dan semakin menjauh dari pijak-kohesifitas nilai kehidupan berbangsa kita. Gumpal kesadaran itu memang tidak serta-merta membesar. Ia merayap dalam tahun-tahun kehidupan kita.

Raksasa ‘butho’ yang kita sebut ‘amoral’ yang menjalar dan mengejar jauh ke sudut-sudut terdalam kehidupan rakyat; dipantik oleh kemiskinan, pendidikan dan lemahnya hukum. Serangkai peristiwa massal dan bertahun yang membuat kita miris, kaget dan seolah tak percya. Radikalisme dan kekerasan sepihak atas nama agama, keyakinan dan kelompok; intoleransi yang mengaburkan nilai persatuan dan kemanusiaan anak bangsa; liberalisme dan saling menerkam dalam kehidupan sosial dan politik yang tak lagi mencirikan Indonesia yang adiluhung; dan berbagai kasus moralitas di luar nalar sehat kita lainnya yang membuat kita bertanya-tanya, ada apa dengan bangsa ini; dimanakah Pancasila yang menjadi ramuan paling moderat dan kesepakatan paling menakjubkan dari seluruh pendiri bangsa ini.

Maka, inilah tahun istimewa itu. Mari kita memulai kerja besar. Serangkai kerja dan pergerakan menuju kesadaran baru. Tentang sebuah bunyi alarm tanda siap-siaga untuk melakukan Revolusi (nilai) Pancasila. Merevitalisasi esensi Pancasila. Dan ini kerja besar. Pergerakan besar. Ia hampir setara dengan pergerakan menuju Indonesia merdeka. Ingat kata Bung Karno, Bapak Bangsa kita; “pergerakan kita janganlah pergerakan yang kecil-kecilan; pergerakan kita itu haruslah pada hakekatnya suatu pergerakan yang ingin mengubah sama sekali sifatnya masyarakat, suatu pergerakan yang ingin menjebol kesakitan-kesakitan masyarakat sampai kesulur-sulurnya dan akar-akarnya.”

Perihal kerja itu. Gerakan Selamatkan Indonesia yang diinisiasi oleh Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, Adhie Massardi dan yang lainnya, telah membunyikan alarm itu. Suaranya merdu. Mereka ajak Pimpinan DPR RI untuk memulai kerja budaya dan politik serta mulai mengkampanyekan ‘Revolusi Pancasila’. Di tanggal 26 Mei 2016, Ruang Pustakaloka itulah kegiatan ini pertamakali diadakan. Luarbiasanya, DPR juga bersemangat sekali dengan kegiatan ini dan dengan antusias, secara lembaga, DPR turut andil besar dalam sukses kerja Konser ‘ Revolusi Pancasila’.

Saya mencatat beberapa hal yang menarik dari acara Konser Revolusi Pancasila. Sumbernya dari berbagai tokoh dan peristiwa yang menyelubungi perhelatan. Semoga bisa menjadi semacam pemupuk pengetahuan dan kesadaran baru kita akan Pancasila dan kehidupan berbangsa.

Bagian 1. Ini Rumah Rakyat Sedunia

Dalam sebuah dialog non-formal sebelum Press Conference acara Konser, Hashim Djojohadikusumo, adik mantan Presiden Prabowo Subianto, mengungkapkan antusiasme kakaknya akan acara ini. Hashim sendiri menyarankan agar kegiatan ini terus dilakukan di berbagai tempat untuk menyemangati kembali rasa ber-Pancasila kita. Prabowo sendiri hadir dalam acara Konser dan mengucapkan selamat ke berbagai pihak, termasuk penyelenggara dan Pimpinan DPR RI.

BACA JUGA  Tujuh Kepala Daerah Serukan Tolak Valentine Day

Ratna Sarumpaet, tokoh perempuan yang juga penggagas acara ini menyatakan, bahwa kegiatan ini berangkat dari kegelisahan kita karena makin jauhnya kita dari nilai pancasila. Kita buat pendekatan seni dan budaya agar cara ramah ini bisa lebih membuka pikiran punlik akan kesadaran tentang esensi Pancasila. Ratna juga sampaikan bahwa sekarang kita dijajah dalam banyak sektor. Masuknya modal Tiongkok yang membabibuta dengan buruh murah yang diimpor mengikuti masuknya modal juga menjadi ancaman tersendiri bagi kedaulatan kita. Ratna juga tegaskan; mau di Parlemen atau di jalanan atau di Istana, rumah Indonesia ini adalah milik kita bersama. Dan tugas kita bersama untuk melawan krisis kesadaran akan pentingnya Pancasila.

Sementara Ahmad Dhani Prasetio, pentolan Dewa 19 yang juga Duta Revolusi Pancasila menyatakan, bahwa DPR harus bisa menjadi rumah besar yang bisa mengapresiasi seni dan budaya. Rumah ini harus ramai dengan nilai dan kegiatan budaya bangsa. Dhani juga menyatakan bahwa gema Revolusi Pancasila akan menjadi semarak dan harus digulirkan terus menerus. Kegiatan di DPR ini adalah wujud kepedulian DPR akan Pancasila yang harus kita menangkan.

Fahri Hamzah yang sejak awal bersama Fadli Zon mendukung penuh acara ini, menyatakan bahwa DPR ini, rumah ini adalah rumah yang bisa menampung seluruh perbedaan dan perdebatan. Dialektika tentang Pancasila bisa terus ditradisikan. Fahri juga menukil kegelisahan Megawati Soekarnoputri saat didaulat menjadi Doktor Honoris Causa Ilmu Politik dan Pemerintahan Unpad tempo hari, bahwasanya Ayah Megawati pernah sampaikan pesan tentang Gedung DPR yang menurut Soekarno sesungguhnya diperuntukan tidak hanya menjadi rumah rakyat Indonesia. Tapi juga menjadi rumah takyat seluruh bangsa di dunia.

Maka, menyambung wasiat Bung Karno, rumah ini, DPR ini, akan menjadi ‘melting pot’ revitalisasi Pancasila. Dalam sambutan ditengah acara konser, Fahri juga menegaskan bahwa kita sedang berada di gedung pusaka. Pancasila adalah serangkaian pemahamahan bersama pendiri bangsa yang menjadi tesis baru ditengah himpitan kapitalisme dan sosialisme saat itu, yang hari ini relevan untuk diajukan kembali sebagai falsafah penengah dari tarikan-tarikan ideologi dan sikap ekstrim. Pancasila adalah buah pergumulan pemikiran sempurna orang-orang Indonesia yang hasl akhirnya merupakan saripati bangsa Indonesia.

Kita akan jadikan Pancasila sebagai ideologi dunia. Kaum intelektual dan budayawan harus bersatu meramu serangkai khasanah pemikiran Pancasila yang sekarang terserak di meja peradaban lalu kita jadikan senjata untuk menegakkan kedaulatan dan keadilan dunia. Pancasila bisa menjadi kepemimpinan dunia baru yang sebelumnya pernah dirancang dandigelorakan Bung Karno. Kendala kita adalah, kita terlalu banyak melihat ke dalam dan tidak melihat jauh tinggi dari angkasa. Padahal, dengan melihat dari ketinggian angkasa, kita akan lihat seluruh dunia. Sayap Pancasila kita yang basah atau patah harus kita obati dahulu.

Bagian 2. Pancasila dan Kesejahteraan

Dalam orasi kebudayaannya di acara Konser Revolusi Pancasila, Yudi latief, salah satu tokoh ilmuwan dan pemikir kebangsaan yang banyak menulis tentang Pancasila menyatakan, bahwa Pancasila itu adalah rumah bersama seluruh anak bangsa. Ia rumah Indonesia. Tak menvenal agama dan suku. Tak mengenal kelas sosial dan pendidikan.

Yudi juga mencermati kondisi terkini. Dimana ada semacam gejala keretakan dalama rumah Indonesia. Ketika kita jauh dari nilai Pancasila, maka akan muncul keretakan. Ketika kita bertuhan tapi abai pada nilai toleransi, maka akan muncul keretakan. Ketika kita berazas kemanuiaan yang adil dan beradab tapi mengindahkan norma persaudaraan sebangsa, maka akan muncul keretakan. Ketika kita menganggap diri menjunjung nilai persatuan tapi kohesifitas sosial makin tergerus maka itulah keretakan. Ketika azas kita permusyawaratan tapi praktik kita demokrasi liberal maka itulah keretakan. Ketika kita junjung keadilan tapi gaktanya tirani feodal menguasai indonesia, maka itulah keretakan di rumah Indonesia.

BACA JUGA  Kedudukan Hukum Kasus Fahri Hamzah Pasca Kasus Gamari Sutrisno

Yudi juga menyampaikan akan perlunya revolusi nasional. Dulu, pendiri republik ini melakukan kerja besar dalam rangka penyatuan seluruh elemen bangsa untuk mempancasilakan revolusi. Seluruh potensi bersatu demi kemerdekaan. Maka yang diperlukan oleh kita hari ini adalah revolusi sosial; sebuah kerja raksasa merevolusikan Pancasila. Hingga kemudian Pancasila menjadi rumah kita kembali. Mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka.

Salamudin Daeng, Koordinator Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia ( AEPI) yang juga didaulat untuk tampil membawakan orasi kebudayaanya menegaskan bahwa forum Konser Revolusi Pancasila memang digagas jauh-jauh hari karena membaca keresahan yang menjalar. Pancasila tidak lagi menjadi landasan kehidupan berbangsa kita. Pancasila itu kultur. Dari kultur itulah yang melahirkan filosofi pandangan hidup.

Kita juga dihinggapi kegelisahan akan perubahan konstitusi kita yang terbaru. Dimana amandemen UUD 1945 tidak lagi mendasari perubahan itu atas filosofi dan ideologi Pancasila. Amandemen UUD 1945 yang menjadi konstitusi sekarang ini telah berubah menjadi wajah baru ideologi neoliberalisme dalam praktik kehidupan politik dan kehidupan berbangsa kita. Akibatnya, pemerintah kita acapkali membuat paket kebijakan yang berbenturan dengn fakta dan falsafah kehidupan kita. Yang lebih menyedihkan lagi, kita -kadang- dibiayai oleh lembaga keuangan asing dalam membuat undang-undan, entah itu lewat paket bantuan atau hutang.

Sementara Hatta Taliwang, salah satu tokoh pendiri PAN yang juga memberikan orasi budayanya menyatakan jangan sampai kita terusir dari rumah kita. Kita tak lagi berdaulat atas semua yang kita miliki. Margarito Kamis, Pengamat politik dan dosen hukum tata negara menyatakan bahwa jangan sampai kita kehilangan jati diri. Kita mesti wasapadai gerakan-gerakan yang mendominasi di sudut kehidupan kita. Untuk apa kita pakai Pancasila. Kalau kita liberal. Kita memilih Pancasila, karena itu merupakan jalan yang kita yakini.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyatakan keprihatinannya akan paradigma ekonomi Indonesia dari Orla dan Orba yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan krusial kita; pertumbuhan ekonomi itu untuk siapa. Untuk rakyat atau konglomerat. Karena catatan hari ini, gini ratio makin tinggi. Artinya; kesenjangan makin meningkat.

Tapi kita melihat paradoks. Saat kita bicara gini ratio, kita lihat, pengunjung mall itu tetap ramai. Saat apartemen mau melakukan grounbreaking, baru dalam tahap memancang tiang, ternyata sudah laku (sold out) 90 persen. Tapi di sisi yang lain, kita juga melihat, gejala rakyat yang semakin menderita hari ke hari. Banyak yang tinggal di bawah jembatan berdinding kardus dan kayu seadanya. Mereka habiskan gajinya untuk makan dan transportasi. Ironisnya, mereka juga digusur atas nama keindahan kawasan kota. Jadi, pertumbuhan ekonomi ini untuk siapa. Nilai Pancasila yang menjadi jiwa pembangunan kita itu raib digilas modal asing.

Fadli Zon, salah satu Wakil Ketua DPR RI yang hadir hingga acara selesai menyatakan bahwa Pancasila harus memenuhi seluruh kebutuhan jiwa rayat Indonesia. Yang pertama adalah; kebahagiaan rakyat. Yang dimaksud kebahagiaan rakyat adalah cukup pangan, cukup papan dan cukup sandang. Yang kedua, adalah kesejahteran rakyat. Dimana hidup rakyat tidak tersia-sia dalam perjalanannya. Yang ketiga adalah keadilan. Hukum yang tegak, tak pandang bulu dan menjamin seluruh warga. Dan yang terakhir adalah perdamaian. DimanaKita tidak merasa takut hidup di sini. Di rumah besar kita. Dalam naungan Pancasila.

BACA JUGA  Tempat Sampah Akan Disebar di Jalan Teuku Umar dan MH. Thamrin

Catatan 3. Nostalgia Masa Lalu

Seperti namanya, Konser Revolusi Pancasila, maka acara seni ini juga didominasi persembahan lagu. Ada Voice of Indonesia yang menyanyikan lagu ‘Pancasila Rumah Kita’ karya Franky Sahilatua. Juga lagu ‘Indonesia Tanah Air Beta’ serta satu buah lagu manis tentang keindahan pulau Indonesia.

Ketika didapuk untuk memberikan pendapatnya tentang Pancasila, Adhie Massardi, mantan Juru Bicara Presiden era Gusdur dan salah satu tokoh aktivis politik negeri ini membacakan sebuah puisi berjudul ‘Hikayat Garuda Tua’. Berikut puisinya:

Aku kisahkan kepadamu tentang garuda
Kendaraan para dewa di zaman raja-raja
Bisa terbang tinggi menutupi matahari
Membuat hari-hari di bumi menjadi sepi

Kini garuda sudah tua dan terlunta-lunta
Pada cakarnya masih tergenggam selendang cinta
Yang diambil dari catatan sejarah Sutasoma
Ketika Mpu Tantular gusar melihat masa depan agama

Lalu seorang anak dengan ketapel di tangan kanan
Memandang garuda yang tengah sempoyongan
Pada cakarnya yang tampak terluka
Masih tergenggam “Bhinneka Tunggal Ika”

Garuda tua memandang anak itu dengan gelisah “Tahukah kamu apa itu Bhinneka Tunggal Ika?”

Anak itu mengarahkan ketapelnya ke gerbang istana “Beragam janji hanya untuk satu tujuan: kekuasaan!”

Garuda semakin merasa tua dan janggal
Lima tanda di dadanya satu-satu tanggal
Matahari memantulkan cahayanya di pucuk monas
Garuda memandang istana dengan cemas

Garuda tua itu menggumam di antara dentum meriam “Bhinneka Tunggal Ika…”

“Aneka ragam partainya tapi bersatu dalam tujuan: menjarah anggaran, menggadaikan sumber daya alam,
melestarikan kekuasaan …”

“Apalah artinya kemerdekaan tanpa kedaulatan, apalah artinya kekuasaan bila tidak menyejahterakan?”

Garuda tua itu lalu terbang tinggi
Dengan sayapnya yang rapuh mencoba menutupi matahari
Tapi hari-hari di bumi tak pernah lagi menjadi sepi
Karena perbedaan telah mengendap di dalam hati

Ada juga penampilan dari Alex Rudiart Hutajulu salah satu peserta X-Factor 2012 dan juga kemunculan Virzha dan Dewi-Dewi yang menyanyikan lagu romantis. Dewa 19 dengan formasi personel lamanya justru lebih banyak menyanyikan tembang lawas yang menjad hits di awal 90-an, seperti Larasati, Cukup Siti Nurbaya dan Kangen.

Saat Ari Lasso menyanyikan tembang-tembang itu, hampir semua penonton ikut menyanyikan. Larut dalam suasana. Apalagi saat lagu ‘Kangen’ dinyanyikan. Pikiran kita seperti melayang dalam ingatan ketika berbincang pertama kali dengan kekasih hati kita. Atau ketika kita tinggalkan kekasih kita untuk pergi beberapa waktu. Seperti itu rasanya.

Lagu ‘Kangen’ itu juga isyarat. Ini bukan sekedar nostalgi-masa lalu tentang negeri kita yang damai dan tentram. Tentang negeri yang kartaraharja yang pernah melintas dalam rentang waktu peradaban nusantara. Ini tentang mimpi kita; Indonesia menjadi negara kesejahteraan yang memimpin dunia menjadi oase bagi bumi yang kering dan gersang oleh perang dan pertikaian.

Semoga pagelaran seni dan budaya yang menyisipkan pesan agar kita kembali mengkhidmati dan merenungi kearifan Pancasila bisa terus disemarakkan. Oleh kita; anak Indonesia.

Tagged , , , ,

Related Posts

Leave a Reply