SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Masyarakat di Perkotaan Enggan Lakukan Pengamanan Siber

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC menilai masyarakat di perkotaan masih enggan untuk melakukan pengamanan pada aset yang terkoneksi ke wilayah siber secara mandiri.

Hal itu dibuktikan dengan survei yang telah dilakukan oleh CISSReC, dimana hanya 33 persen masyarakat di sembilan kota besar tanah air untuk mengikuti himbauan dari Kominfo terkait dengan pengamanan komputer atas serangan ransomware wannacry beberapa waktu lalu.

“Ada kecenderungan masyarakat kita enggan untuk melakukan pengamanan siber secara mandiri. Ini bisa disebabkan oleh masyarakat yang memang belum merasakan langsung akibat serangan siber maupun dorongan dari pemerintah yang harus lebih kuat lagi,” jelas Chairman CISSReC Pratama Persadha kepada suarajakarta.co.

Dalam paparan risetnya, pakar keamanan siber tersebut menjelaskan selain wannacry, hasil riset juga menyebutkan sebenarnya masyarakat di kota besar tanah air sudah menyadari ada resiko keamanan pada SMS dan internet banking perbankan, juga e-commerce.

“Namun disaat yang sama hanya ada 25% masyarakat yang tahu resiko ATM kita yang sebagian besar Windows XP. Ini tentu situasi yang tidak bagus,” jelasnya.

Windows XP sendiri, tambah Pratama, dukungan keamanannya sudah dihentikan oleh Microsoft sejak 2013. Ini jelas meningkatkan resiko keamanan di ATM-ATM kita.

“Ini yang menjadi alasan banyaknya tindak kejahatan skimming pada ATM di tanah air, dan uniknya banyak pelakunya berasal dari warga negara asing,” urainya.

Dari hasil riset 57% responden menjawab tidak yakin dengan keamanan SMS/internet banking di Indonesia. Hanya 43% responden yang menjawab yakin dengan keamanan SMS/internet banking di Indonesia. Lalu 66% menjawab tidak yakin dengan keamanan e-commerce di Indonesia. Masih ada 34% responden yang merasa yakin dengan keamanan e-commerce di Indonesia.

BACA JUGA  Apple Akuisisi Linx untuk Ekspansi Bisnis

74% dari responden menyatakan bahwa mereka paham dan sadar bahwa memasukkan data pribadi ke aplikasi atau layanan online berpotensi mengganggu privasi. 13%-nya mengatakan tidak masalah sementara sisanya yang 13% menyatakan tidak tahu.

75% responden menjawab tidak pernah menjadi korban peretasan akun e-mail dan media sosial. 19 % menjawab pernah menjadi korban peretasan. Sisanya menjawab tidak tahu apakah pernah mengalami peretasan akun e-mail dan media sosial.

81% responden menganggap privasi sangat penting untuk dilindungi. 4% tidak menganggap perlindungan privasi penting dan 14% menganggap tidak tahu apakah perlindungan privasi itu penting atau tidak. (RDB)

Leave a Reply