SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Nyeri Dada dan Doa

Ilustrasi. (Foto: IST)

Dokter Efiii, konsul ya. Nyeri dada katanya,” tiba-tiba mbak perawat itu sudah ada di sebelah Efi dan menyerahkan selembar kertas konsul. Di RS Lapangan itu, Efi satu-satunya dokter spesialis jantung yang bertugas.

Segera setelah membaca cepat lembar konsul, Efi mendatangi pasien yang dimaksud. Pasien itu seorang pria, usia 30 tahun, wajahnya tampak pucat, sambil menunduk, tangannya terus memegangi dadanya.

“Assalamualaikum, Ahmad ya? Sudah berapa lama sakit dadanya Mas Ahmad?,” berusaha mencairkan suasana, Efi memanggilnya saja Mas, toh usianya lebih jauh lebih muda. Dan itulah kehebatannya: usianya lebih muda dari Efi, tapi sudah punya keluhan soal jantung.

“Ga tau Dok, ga inget, sakitlah pokoknya ini. Tolong Dok..,” kata si pasien terengah-engah.

Sambil memeriksa denyut nadi dan nafas, Efi memerintahkan perawat memasang EKG pada pasien itu. Nadi normal, nafas normal, tekanan darah normal. Riwayat penyakit jantung, kolesterol dan lainnya negatif. Sudah satu setengah jam ini lelaki itu merasakan nyeri dada itu, hanya nyeri dada. Jika memang nyerinya karena penyakit jantung, seharusnya ia berkeringat dingin pula, lalu sangat sesak dan terengah-engah. Namun tidak, ia hanya nyeri dada tanpa gejala lain. Hebatnya juga, dengan nyeri selama satu setengah jam itu dia masih bisa menjawab pertanyaan paramedis.

Dan saat hasil EKG fercetak, Efi makin heran: tak ada yang salah dengan jantungnya. Tapi lelaki itu masih saja memegangi dadanya.

“Ahmad, dadanya masih nyeri? Suster, tolong diambilkan air minum. Kita periksa darahnya juga ya..”, tanya Efi berusaha seramah dan empati mungkin, sambil mengusap pundak pasiennya ini.

Efi makin heran, pasien berperawakan sedang itu tiba-tiba sesunggukan pelan, matanya pun basah dengan air mata. Dia menangis! Nah lho? Did i do wrong? Ups, aku salah ngomong ya? Pikir Efi. Sambil melirik ke perawat lain, dengan isyarat minta dipanggilkan Mas Edo, satu-satunya perawat laki-laki yang sedang bertugas waktu itu. Harus ada laki-laki lain di situ, supaya tangisan itu tidak makin jadi.

BACA JUGA  Move On Dari Takdir Pilu

“Nih, minum air putih dulu ya Ahmad..”, Mas Edo pun datang dengan segelas air putih. Namun pasien itu terus saja menangis. Boys dont cry, Oh men, boys dont cry, please! Bisik hati Efi, tak tega mendengar seorang lelaki berumur 30 tahun yang secara fisik tampak gagah, sehat dan baik tanpa masalah itu menangis begitu. Dan ini ternyata terus berlangsung hingga 15 menit lamanya.

“Masalah ini terlalu berat Dok untuk saya bagi ceritanya dengan yang lain. Ga bisa Dok..”, akhirnya pasien itu berusaha bersuara. Mas Edo sudah berlalu sejak lima menit yang lalu, sebab di bed lain ada lansia datang dengan kondisi pingsan.

“Sabar ya Mas Ahmad. Setiap masalah insyaAllah ada jalan keluarnya,” hibur dokter spesialis lulusan perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya itu. Sambil menunggu hasil lab, dia mengorek data lebih jauh terkait keluhan pasiennya itu. Rupa-rupanya, Mas Ahmad ini mengalami depresi selama proses keberangkatan haji. Banyak hal membuatnya tertekan.

“Mas Ahmad, anda sedang berada di kota Mekkah lho, kota di mana peradaban Islam bermula. Ada masjidil Haram yang kalau berdoa di sana, insyaAllah doanya makbul. Apa yang mengganjal di hati bisa diadukan ke Allah, Allah itu Maha Mendengar, Maha Pengasih, Maha Mendengarkan doa hambaNya,” hibur Efi. Lidah tak bertulang, Efi tak menyangka juga dia bisa sebijak itu menasehati pasiennya.

“Anda sehat ya, rekam jantungnya normal. InsyaAllah sehat. Tapi kalau ada keluhan apapun, boleh kok ke sini lagi, kami dengan senang hati mengobati jika Pak Haji ada keluhan lagi,” hibur Efi seramah mungkin, dengan senyum semanis mungkin. Sedikit gombal, tapi menurutnya itulah yang dibutuhkan pasiennya itu sekarang.

BACA JUGA  Hikmah Dari Seorang Muthowifah

Wajah Mas Ahmad terlihat cerah sumringah, bahkan lebih cerah dari hangatnya mentari di atas kota Mekkah sore itu.

Bahkan di kota suci ini sebuah kalimat yang menyejukkan tetap dibutuhkan. Dan doa memang adalah senjata terakhir seorang mukmin. Dengan doa, manusia dapat ‘merayu’ Sang Pengelola takdir. Takdir buruk berubah menjadi baik, takdir baik makin mendekat. Dengan doa, Sang Pembolak-balik hati mengobati hati yang sakit. Sebab ketika manusia mendekat selangkah padaNya, Dia balas mendekati manusia seribu langkah. Dan apakah yang lebih menenangkan dari satu keyakinan bahwa ada Dia Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang ada di dekat kita?

Penulis: Sari Kusumawati, MD

Tagged

Leave a Reply