Move On Dari Takdir Pilu - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Move On Dari Takdir Pilu

Ilustrasi. (Foto: IST)

Ini memang kisah tragis nan pilu. Pagi itu, seperti biasa semua beraktivitas. Kecuali anak sulung mereka. Remaja usia 16 tahun itu berkebutuhan khusus, katanya autis. Karena kondisi ekonomi yang terbatas dan pengetahuan orang tuanya yang kurang, anak ini dirumahkan saja. Berbeda dengan dua adiknya yang bersekolah seperti kebanyakan anak lainnya. Demi keamanan, ia selalu diawasi, sebab semua tahu: autis sering bertindak membahayakan diri dan lingkungan.

Lalu, pagi itu, Ayah yang bertugas mengawasinya, dan menyediakan sarapannya. Dan pergilah ia ke warung mie ayam di satu warung, memesan sebungkus untuk si sulung, meninggalkan si sulung di kamarnya di lantai atas rumah, sementara keluarga lain berkumpul di ruang tamu. Ibu saat itu tengah ada urusan di luar rumah.

Tengah menunggu mie ayam dimasak, tiba-tiba keramaian muncul dari arah rumahnya. “Pak, rumahnya kebakaran, pulang cepat!”, seorang tetangga tahu-tahu memanggilnya.

Lututnya lunglai, jantungnya berdegup kencang. Ya Allah, si sulung sendirian di kamarnya! Rasa waswas segera menyelinap. Jangan-jangan…

Meski lemas, ia paksakan segera lari kembali ke rumahnya yang berjarak 200 meter dari warung mie ayam. Kepulan asap hitam tampak di langit, matanya makin nanar, dalam hati tak hentinya ia beristighfar lirih, berharap: Ya Allah, jagalah anakku!

Ketika ia tiba, sekitar rumahnya tengah penuh oleh kerumunan warga. Ada yang sekedar menyaksikan, namun sebagian besar sibuk mengoperkan ember berisi air untuk memadamkan api, sambil menunggu petugas pemadam kebakaran menemukan akses menuju rumah terbakar yang berada di pinggir jalan kecil kampung itu. Matanya makin panas, badannya makin lemas, api bercampur asap telah menutupi lantai atas rumahnya. Suara sirine pemadam kebakaran saling bersahutan, teriakan warga yang berusaha membantu juga begitu riuh. Semuanya telah habis! Dan di manakah anak sulungnya?, hatinya meraung pilu.

BACA JUGA  Pak Seno, Guru SMP Yang Mensiasati Hidup dengan Berjualan Sate Ayam

“Cucu saya masih di atas, di kamarnya!”, sayup-sayup ia dengar suara ayah mertuanya berteriak meminta tolong pada semua orang. Ya Allah, anak sulungku masih di sana..

Semua terjadi begitu cepat. Api memang kemudian berhasil dilokalisir, hanya rumah miliknya saja yang terbakar, rumah yang sebenarnya bagian yang disekat dari rumah induk, rumah mertuanya. Semua keluarga berdatangan. Istrinya yang sejak pagi ada urusan di luar pun dipanggil pulang. Dan bagai drama, ketika api mulai padam, polisi turun tangan mengamankan, berikut para pengurus RT.

Ia hanya bisa pasrah saat mereka menggiring dirinya dan istrinya untuk dimintai keterangan. Ia juga hanya makin meneteskan air mata saat istrinya tak bisa terima lalu meraung sambil seolah meminta pertanggungjawaban, “Ayah kenapa ninggalin anaknya? Kok ditinggalin?”

“Saya ke pasar tadi, maksudnya beliin sarapan dia. Tadi saya langsung lari pulang karena dikasih tau ada kebakaran, mie ayamnya saya tinggal”, jawabnya mencoba membela diri, meski ia tahu: ini tak akan membuatnya hatinya lega sedikitpun.

Saat api berkobar dari kamar tempat si sulung berada, semua orang berusaha menyelamatkan diri tanpa dikomando. Api yang berkobar disertai asam pekat hitam itu memang luar biasa mengerikan . Kamar coba digedor, pintu terkunci rapat, namun tidak ada jawaban. Pintu gagal dibuka. Sebagian menduga si sulung sudah keluar rumah.

Api memang kemudian berhasil dipadamkan. Dan di dalam kamar yang terbakar, si sulung telah ditemukan hampir jadi arang. Iya, anak itu tewas terpanggang.

Ketika sang Ayah bertemu dengan keluarga lain yang tadi berada di rumah, penuh rasa sesal ia seolah minta pertanggungjawaban, “Pintu kamarnya kenapa ga digedor? Itu kan dari triplek, masak ga bisa didobrak?”

BACA JUGA  Smartphone Buat Bapak

“Sudah Pak, diikhlasin, mungkin udah takdirnya. Tadi yang di rumah kan perempuan semua, mana ngerti dobrak-dobrak pintu? Panik semua Pak…”, jawab famili yang ditanya.

Pilu, sepasang Ayah dan Ibu itu hanya bisa membiarkan air mata penyesalan membanjiri mata mereka. Seandainya saja aku tidak tinggalkan ia sendiri. Seandainya saja aku pulang lebih cepat. Seandainya saja aku ada di sana, tentu engkau tak akan mati mengenaskan begini Nak? Maafkan Ayah, Nak, Ayah tak berhasil menjagamu, pikiran sesal itu tak bisa ia hentikan.

“Sudahlah Pak, Bu, ikhlaskan, ini sudah takdir, kita tidak bisa menolaknya. Semoga keluarga sabar ya..”, nasehat beberapa tetangga yang datang menjenguk saat itu.
***

Takdir kematian adalah satu hal yang paling absolut di dunia ini. Jika sudah terjadi, dan saat itulah ia disebut takdir, tak ada yang bisa mengubahnya. Ini tidak seperti VCD yang bisa direwind, diputar ulang, lalu diedit dengan program video editor. Bukan. Ini ya takdir: sesuatu yang sudah terjadi, dan tak ada yang bisa mengubah atau membaliknya.

Jadi, ketika itu sudah terjadi, biarkan ia terjadi. Jika nasi telah hangus jadi kerak, tak ada yang bisa membaliknya menjadi beras kembali. Manusia hanya bisa memanfaatkannya jadi krupuk kerak jika memang belum meng-arang. Jika telah menjadi arang, ia hanya bisa jadi sampah.

Tapi ingat: sampah pun masih menjadi sumber rejeki bagi banyak orang. Bagi pemulung, sampah plastik berubah menjadi rupiah. Bagi aktivis lingkungan, sampah organik berubah menjadi pupuk kompos. Dan mereka tak pernah sibuk memikirkan dari mana asal kompos itu, sudah tidak penting wujud awalnya, yang penting faedahnya sekarang.

Begitulah takdir: Manusia tak perlu terlalu dalam memikirkan apa yang telah terjadi. Ingatan tentangnya memang tak akan sirna. Kesalahan memang bisa dimaafkan, tapi yang telah terjadi amat jarang bisa dilupakan. Tapi, ingatlah sesekali saja, bukan seringkali, sambil terus bergerak ke depan, entah dengan melangkah, merangkak, bahkan jika perlu dengan merayap! Ya, jangan biarkan setan membisikan telinga dengan jutaan penyesalan pilu, mendayu, merajuk, mengkhayalkannya di siang bolong.

BACA JUGA  Harga Diri Lelaki Berbaju Ihram

Move on yuk! Dan biarkan masa lalu menjadi kenangan.

Penulis: Sari Kusuma

Tagged ,

Related Posts

Leave a Reply