Belajar Pantang Menyerah Dari Sopir Bajaj - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Belajar Pantang Menyerah Dari Sopir Bajaj

Supir Bajaj. (Foto: ciputranews)

Tahukah anda? Bahwa setiap 100 kendaraan di Jakarta akan ‘beranak’ 12 kendaraan lain setiap tahunnya? Bayangkan saja: dalam sebuah kawasan parkir yang berkapasitas maksimal dan sudah padat dengan 10 mobil, maka tahun depan harus menampung 11. Maka jadilah kondisi Jakarta seperti yang kita lihat sekarang: tepi jalan penuh dengan kendaraan parkir, belum lagi badan jalan yang sudah macet dengan kendaraan lain. Maka macet adalah menu harian warga Jakarta, baik pengguna kendaraan pribadi maupun umum. Kalau dihitung, seperenam hidup mereka dihabiskan di jalan, yang umurnya 30 tahun: 5 tahun hidupnya sudah habis di jalan.

Butuh kesabaran, keuletan, dan kerja keras untuk mengendarai mobil melalui ruwetnya lalu lintas Jakarta ini. Mungkin itu sebabnya sekitar 350.000 orang memilih menggunakan angkutan massal seperti bus Transjakarta, sementara 650 ribu lebih lainnya memilih Commuter Line atau kereta listrik. Lalu menyambung dengan angkutan penghubung, seperti bajay, ojeg, angkot atau metromini ke lokasi tujuan berikutnya.

Tentu saja, ini menjadi rejeki para sopirnya, termasuk seorang kakek berumur 65 tahun ini. Pegawai negeri sipil mungkin sudah pensiun lalu tinggal bersantai mengurus cucu, mengerjakan hobi, atau aktif di kegiatan sosial di usia ini. Tapi Pak Kasdi, sebut saja begitu, tetap sabar menarik bajaj berbahan bakar gas milik juragannya. Wah!

“Dulu saya buruh pabrik Bu, dipensiun dini, uang pesangon buat bikin warung. Eh, ga jalan warungnya, habis dihutangi terus. Ya udah, lanjut narik taxi. Lama-lama ganti bawa bajaj,” ia berkisah soal perjalanan karirnya.

BACA JUGA  Bertemu Jodoh Di Depan Ka'bah

“Alhamdulillah, anak-anak udah gede semua, udah nikah, bisa mandiri. Tapi ya mereka juga ga mapan-mapan banget, jadi ya ga enak juga kalau saya apa-apa ngandelin mereka,” lanjutnya, mulai menceritakan keenam anaknya.

Dari keenam anaknya ini, ia baru mendapat 4 cucu. Yang dua di antaranya tinggal bersamanya, berikut bapak ibunya.

“Ya gimana ya Bu, kadang kita juga ikut jajanin cucu. Mantu saya yang satu itu memang kurang ulet, alasannya: harta mah cuma titipan, ga usah banyak-banyak nyarinya. Dia sehari-hari kerja di warung pecel lele bantuin temen. Padahal dia juga kudu nafkahin ibu kandungnya sendiri. Kok ya betah kerja begitu. Saya ajak narik bajaj ga mau. Kalo rame, seminggu narik bajaj bisa dapet gaji dia sebulan bantuin jual pecel lele lho!”, celoteh lelaki yang rambutnya mulai ditumbuhi uban ini, mulai resah.

Tangannya memang masih tampak kokoh memainkan gas dan stir bajaj. Kemampuannya mengendalikan bajaj serta mencari jalan alternatif untuk menghindari macet juga patut diacungi jempol. Fasih sekali kakek berkulit sawo matang itu melalui jalan-jalan ‘tikus’ sekitar Jakarta Selatan.

Beberapa orang mungkin akan jatuh iba melihat kakek berumur lanjut itu masih keluyuran di ganasnya ibukota. Tapi seharusnya mereka tidak usah iba, sebab Pak Kasdi adalah tipe manusia pejuang dan pekerja keras. Kepada manusia jenis seperti ini seharusnya warga Jakarta harus berterimakasih. Sebab dengan kerja kerasnya, ia mampu menghidupi diri, ia menafkahi istri, anak bahkan cucunya. Ia mengurangi angka kemiskinan, menurunkan angka pengangguran. Dan tentu saja, mengurangi beban pemerintah untuk mengurusi fakir miskin.

Sebab di luar sana, banyak juga mereka yang masih betah menjadi peminta-minta. Banyak juga mereka yang bisa berpenghasilan lebih tinggi dari UMR Jakarta, dengan bermodal kaleng atau kantong bekas molto kosong untuk meminta rupiah sambil memasang wajah melas minta belas kasihan, di pertigaan jalan, jembatan penyeberangan, atau di pinggiran pasar.

BACA JUGA  Sang Pencari Tuhan Itu Seorang Pengusaha

Usaha Pak Kasdi untuk mencari nafkah sendiri di usianya yang sudah lanjut itu harus tetap dihargai. Tak bisa dipungkiri, rasa berharga di hadapan manusia -termasuk anak sendiri- menimbulkan semangat hidup tersendiri. Sementara rasa kebergantungan yang terlalu besar pada manusia lain, menimbulkan rasa tidak percaya diri.

Dari Pak Kasdi kita belajar, bahwa tidak ada batasan umur untuk terus bekerja dan berkarya, meskipun ‘hanya’ demi masyarakat terkecil dalam sebuah negara: keluarga. Jangan menyerah, karena Dia akan memberikan jalan keluar jika hambaNya terus berusaha.

Penulis: Sari Kusuma

Tagged ,

Related Posts

Leave a Reply