SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Mendidik Anak Cerdas Finansial

Anak Cerdas Finansial

Ilustrasi. (Foto: IST)

Anak Cerdas Finansial

Ilustrasi. (Foto: IST)

SuaraJakarta.co, JAKARTA – Cerdas finansial meliputi 3 hal yakni Wirausaha, Pengelolaan Aset Finansial dan Pengelolaan Aset Sosial. Masyarakat kita dalam proses meningkatkan diri dari pencari, menjadi pengelola ekonomi. Yang terakhir ini masyarakat kita sangat lemah. Wajar, mencari dan menghidupi diri saja masih susah, maka belum terpikirkan mengelola keuangannya. Karena mencari, mengelola hingga mengeluarkan harta, menuntur skill-nya berbeda.

Ketika mencari, masyarakat kita lebih banyak sebagai karyawan. Sekarang mulai bangkit semangat wirausaha, namun skalanya masih kecil, perlu mendapat dukungan pemerintah dalam hal regulasi dan dukungan finansial dari para pemodal. Di dalam hal ini, NGO, Komunitas dan Lembaga Amil Zakat punya peranan besar untuk membantu masyarakat.

Kemudian dalam hal mengelola, masyarakat cenderung mengabaikan investasi dan cenderung berhutang konsumtif, tapi lagi-lagi ini bisa terjadi karena kurangnya income hingga mereka berhutang. Terakhir, tentang bagaimana mereka membelanjakan uangnya. Mindset tentang zakat, sedekah, infaq, caring and sharing harus terus dibangun. Bagaimana mereka mengutamakan berinvestasi di pendidikan anak daripada konsumsi misalnya. Itu masalah kompleks yang harus kita selesaikan bersama.

Selain berdaya dalam hal “mencari sumber ekonomi”, keinginan kita yang utama adalah membuat masyarakat menyimpan hartanya dalam aset riil, seperti emas dan properti. Karena kita sangat lemah dalam hal itu. Kenapa kita harus kuasai aset riil? Agar terjaga nilai hartanya. Terlebih lagi jika aset tetap itu produktif dan aktif, maka akan lebih baik lagi karena akan memastikan ekonomi bergerak, pengangguran terserap dan kekayaan tersebar.

Lalu bagaimana cara untuk mendidik anak-anak cerdas finansial dari usia dini?

Ada peran edukasi yang bisa dirintis melalui institusi pendidikan, orang tua dan pemerintah melalui bank dan lembaga keuangan. Kurikulum tentang mengeola uang harus masuk dari dini, sehingga masyarakat dari usia dini sudah terlatih ‘menyikapi uang’. Mereka juga diperkenalkan ke berbagai instrumen terkait, seperti pajak, etika bisnis, cara negosiasi, investasi saham, obligasi, memahami transaksi yang syariah dan yang tidak. Selain itu, peran komunitas dan Lembaga Amil Zakat juga diperlukan untuk memberi ruang kepada masyarakat untuk melakukan praktek yang sifatnya menumbuhkan/ cultivation. Misalnya komunitas bisnis yang sekarang makin menjamur banyak membantu dalam hal wirausaha. Demikian juga kelompok-kelompok dan asosiasi bisnis. Kesadaran bahwa sukses dalam finansial adalah jika mensukseskan orang lain dalam berkarya atau berbisnis harus ditumbuhkan.

BACA JUGA  Jurus Jitu Online Marketing yang Banyak Orang Lupakan

Salah satu cara paling aplikatif adalah melatih anak-anak berdagang dari dini. Mengajaknya menciptakan produk, melakukan ‘branding’, kemudian melatihnya membuat rencana marketing, dan terakhir melakukan selling. Tapi setelah dari sana, pembelajaran soal finansial belum berhenti. Karena dari income yang ia dapat itu, bagaimana ia mencatatnya, berapa yang harus ia sisihkan untuk sedekah/ tanggung jawab sosial, berapa yang ia kelola untuk modal dan berapa yang ia bisa nikmati. Ini terus perlu dilatih dari mereka kecil. Setelah dana cukup, kira-kira berapa yang akan ia alokasikan dalam bentuk aset riil seperti emas, tanah atau saham dan kepemilikan. Jadi ketika ia besar, ia tahu menyikapi dan mengelola uang. Karena cerdas finansial adalah lebih banyak soal attitude, maka perlu dibangun lama dan didampingi.

Penulis: Endy Kurniawan @endykurniawan, Coach, trainer dan Penulis Seputar Bisnis, Keuangan dan Investasi

Tagged , , ,

Related Posts

Leave a Reply

[yop_poll id="2"]