Untuk Para Calon Mahasiswa - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Untuk Para Calon Mahasiswa

Ribuan mahasiswa dari berbagai aliansi termasuk BEM SI (Seluruh Indonesia) melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Negara, Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat (21/5). (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

SuaraJakarta.co – Mendengar istilah Mahasiswa kita akan dihadapkan dengan gambaran-gambaran masa lalu, masa-masa kejayaan mahasiswa yang bergelora dengan semangat tridarma-nya, sebut saja nama-nama seperti, Mahbub Junaidi, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, sampai dengan Budiman Sujatmiko adalah sederet nama-nama Mahasiswa yang sempat menggoreskan sejarah dipanggung dunia pergerakan. Sepanjang perjalanan sejarah Mahasiswa terdapat tiga periode yang paling monumental yaitu pada tahun 1965-1966, 1975-1978, dan 1997 sampai 2000. Dimana pada periode tersebut Mahasiswa tidak hanya berdiri sebagai kaum intelektual yang sibuk dengan lembaran-lembaran buku dan sekelumit teori, tapi Mahasiswa berdiri, bergerak, dan meluruskan segala bentuk aktifitas pemerintah yang dianggap keliru dan merugikan Rakyat!!! Mahasiswa juga bertanggung jawab terhadap masa depan bangsa dan tidak tidur oleh ninabobo glamoritas pembangunan. Tidak peduli jurusan apapun yang kalian akan ambil sebagai Mahasiswa kalian harus memeiliki tanggung jawab moral terhadap persoalan kemanusiaan, kebangsaan dan keadilan dan segala bentuk-bentuk penindasan, baik secara fisik, ekonomi, politik dan hukum.

Degradasi idealisme Mahasiswa pasca Reformasi

Pasca tumbangnya rezim otoriter dibawah kepemimpinan tangan besi Soeharto Mahasiswa tampil sebagai superhero dan menumbuhkan kepercayaan yang besar ditengah Masyarakat akan tetapi disaat sistem ekonomi politik Indonesia yang semakin menuju neo-liberalisme dan Masyarakat menjadi manusia kapitalis, lambat laun fenomena ini melunturkan label-label yang dinisbahkan pada Mahasiswa seperti agent of change, social control dan agent of power Mahasiswa digiring kepada Demokrasi semu dan kesenangan kapitalisme. Dan Mahasiswa pun semakin sibuk dengan urusan pribadi dan kesenangan-kesenangan omong kosong dengan kata lain idealism Mahasiswa telah tergadaikan. Dan secara perlahan kepekaan sosial, budaya kritis dan integritas intelektual kian terkikis sampai dengan 17 tahun pasca reformasi Mahasiswa mengalami kemunduran dari segi akedemik dan pergerakan aktivisme. Pada akhirnya istilah Mahasiswa menurut kami tidak layak disandangkan pada mereka pelajar universitas hari ini. Kenapa? Karena penggunaan istilah Mahasiswa merujuk pada pengalaman historis dimana diatas sudah diuraikan bahwa pelajar yang duduk dibangku perguruan tinggi adalah siswa-siswi yang memiliki mandat moralitas, itu kenapa penggunaan kata Maha (besar) dilekatkan pada siswa/siswi (pelajar) Yang berarti seorang Mahasiswa adalah mereka yang memiliki jiwa yang besar disertai dengan tanggung jawab sosial dan keberanian untuk berkata benar untuk sebuah kebenaran dan menolak segala bentuk kemunafikan.

BACA JUGA  Entrepreneurship Sebagai Akselerator Kemandirian Indonesia

Kiat-kiat menjadi Mahasiswa untuk para Mahasiswa Baru (MABA)

Mulailah mengenal lingkungan kampus, cari orang-orang yang memiliki latar belakang Organisasi atau orientasi pergerakan. Kelola informasi dari media internet dan literatur buku tentang sejarah bangsa dan sejarah pergerakan Mahasiswa baik secara akademik maupun aktivisme. Tingkatkan pola pikir yang kritis, artinya tidak menerima segala informasi mentah-mentah dari pihak manapun. Jadilah Mahasiswa yang aktif dan budayakan membaca buku, berdiskusi dengan dibarengi semangat Tri-darma Mahasiswa yaitu pendidikan, penelitian dan pengembangan dan pengabdian Masyarakat. Tanamkan dalam diri kalian jiwa manusia yang terdidik demi kemanusiaan bukan demi uang, popularitas apalagi kekuasaan. Sedikit kutipan dari bapak bangsa yang terlupakan yakni Tan Malaka ia pernah berkata “Tujuan pendidikan untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” dan “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan memiliki cicta-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”.

Semoga tulisan kecil ini dapat menggugah perasaan dan pikiran teman-teman calon Mahasiwa yang sebentar lagi akan memasuki bangku perkuliahan. Tetap semangat dan jadilah Mahasiswa yang Merdeka dalam berpikir dan bertindak!!

Penulis: Villarian, Mahasiswa ilmu politik UIN Jakarta, Kader PMII dan Warga Lingkar Studi Tangerang Selatan/LiNTAS dan Ahmad Chaidir Ali, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Moestopo dan Warga LiNTAS.

Tagged , , ,

Leave a Reply