Refleksi 70 Tahun Kibarnya Sang Merah Putih - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Refleksi 70 Tahun Kibarnya Sang Merah Putih

bendera merah putih

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

“Wahai Anak Muda.. Jangan hanya Mengenang Sejarah, Tapi Mengulanglah!”

SuaraJakarta.co – Tak terasa tahun ini adalah tahun ke-70 berkibarnya kemerdekaan Tanah Air kita tercinta, Indonesia. Sebuah negara dengan gugusan pulau-pulaunya dan kekayaan alamnya. 70 tahun jika dianalogikan dengan usia manusia, telah memasuki fase tua renta.

Bukan saatnya melontarkan tanya, apa yang telah negeri ini berikan pada kita. Melainkan apa yang telah kita berikan kepada negeri ini? di usianya yang menginjak agka 70. Adakah setiap hari kemerdekaan itu tiba kita hanya menganggapnya selintas lalu?

Mari, mengenang dan merenung sejenak. Jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, betapa warga negeri ini sendiri harus mengecap pedihnya penjajahan oleh Bangsa lain. Hingga terbetik asa untuk menggelorakan kata merdeka. Perjuangan berpeluh namun tanpa keluh, pergolakan, pertentangan. Semua dilakukan oleh mereka yang ingin terlepas dari belenggu penjajah yang erat mengikat.

“Dimana ada kemauan, disitu Allah beri jalan”

Suatu hari di tahun 1945 bertepatan dengan bulan Ramadhan yang mulia, masyarakat Indonesia datang berbondong-bondong ke depan kediaman Bung Karno. Gerangan apakah yang membuat mereka mendatangi kediaman Bung Karno dengan bgitu semangatnya? Dan ya ternyata hari itulah menjadi momen bersejarah bagi Indonesia. Hari itu, Bung Karno selaku presiden akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan rakyat Indonesia pun ahirnya berbuah manis.

Peluh yang mengucur, darah yang tertumpah, terbayar sudah. Demi merebut panji kemerdekaan. Dan itu diawali oleh gagasan para pemuda zaman itu. Ya, anak muda. yang terhimpun dalam organisasi kepemudaan.

BACA JUGA  Hari Santri Nasional, Modal Awal Miliki Jiwa Nasionalis

Marilah, kita merenung sejenak. Mempertanyakan jiwa semangat muda kita. Jika zaman dahulu para pemuda menggelorakan semangat kemerdekaan, maka zaman kini kita pun juga sepatutnya mengaktualisasikan jiwa semangat muda kita. Tak perlu terlalu njelimet berpikir bagaimana caranya menjadikan Indonesia sebagai negeri terkayat sejagat raya. Pun tak perlu risau memikirkan bagaimana caranya agar harga rupiah menguat. Kita bisa memulainya dari diri kita, dari lingkungan terdekat kita.

Berbicara tentang organisasi kepemudaan, ada banyak yang bisa kita ikuti, di antaranya ialah Karang Taruna. Organisasi kepemudaan yang biasanya berada pada lingkup RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan.

Di lingkup RT, sejak saya kecil, Karang Taruna RT saya aktif mengadakan kegiatan semisal penghijauan dan tentunya perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia berupa perlombaan untuk anak-anak dan ibu-ibu. Namun kian lama warna-warni Perayaan Hari Kemerdekaan yang diadakan Karang Taruna RT saya kian memudar hingga benar-benar tidak ada lagi. berangkat dari sebuah perenungsnlah, akhirnya awal tahun kemarin, saya pun menyadari bahwa saatnya Karang Taruna RT saya yang dahulu meredup kini harus kembali bersinar. Saatnya saya dan kawan-kawan sebaya saya yang mengemban amanah Karang Taruna RT. Maka saya ajaklah tetangga sekitar saya yang masih remaja untuk membangun kembali Karang Taruna RT kami.

“Inget nggak dulu, waktu kita masih kecil, kan banyak lomba-lomba tujuh belas-an di RT kita ynag diadakan Karang Taruna RT kita. Nah sadar nggak kita, udah sekitar 5 atau 6 tahun belakangan ini nggak ada lomba. Sejak dulu kita SMP. Kasihan anak-anak kecil di RT kita zaman sekarang belum pernah ngerasain lomba tujuh belas-an.” Saya utarakan alasan simpel membangun kembali Karang Taruna di pertemuan perdana kala itu.

BACA JUGA  Pemuda Pendongkrak Bangsa..!!

Teman-reman remaja RT saya yang saat itu berhasil saya himpun—sekitar 10 oran—pun tergugah. Dan saat itu juga dibentuklah struktur organisasi Karang Taruna RT saya, RT 01. Arisan Karang Taruna menjadi sarana kami mempererat silaturahim dengan pertemuan 2 pekan sekali. Hingga tibalah saatnya persiapan menyambut Perayaan Hari Kemerdekaan. Saya diamanahkan untuk menjadi ketua pelaksana. Di awal masa persiapan, semangat beberapa teman-teman anggota agak mengendur. Saya dan 2 orang teman anggota yang lainnya harus berupaya menguatkan kembali semangat itu. Saat itu saya rasa bukan mudah menyalakan kembali semangat teman-teman yang lain. Hari H pun kian dekat.

Tapi perjuangan itu bukanlah apa-apa, jika dibandingkan dengan perjuangan para pemuda zaman pra-kemerdekaan yang begitu susah payah menggelorakan api semangat kemerdekaan. Pastiah jauh lebih berat. Alhamdulillah, perlahan-lahan semangat para anggota Karang Taruna RT saya yang lainnya kembali bergelora. Bersama kami berjuang mempersiapkan perlombaan dalam rangka HUT Kemerdekaan. Diiringi kerikil masalah yang menghadang, namun bersama kami hadapi. Mengingat kembali tujuan utama kami. Jika para pemuda zaman pra-kemerdekaan berjuang untuk mempersembahkan kemerdekaan bagi Indonesia. Maka tujuan kami adalah mempersembahkan kontrbusi terbaik bagi RT kami. Tujuan yang sama dalam konteks yang berbeda.

Hingga perjuangan berbuah manis. Alhamdulillah, pada HUT Kemerdekaan tahun lalu yakni yang ke-69 diadakanlah perlombaan tujuh belas-an untuk pertama kalinya di RT saya setelah vakum selama 5 tahun. Tak hanya anak-anak yang menyambut sukacita, pun ibu-ibu dan bapak-bapak yang dapat ikut merasakan pancarana kebahagiaan anak-anak mereka yang mengikuti lomba.

Dan tahun ini, Karang Taruna RT saya insya Allah akan kembali mengadakan perlombaan. Tepatnya esok, Minggu, 16 Agustus 2015. Sederhana saja maksud dan tujuan kami, ingin turut berbagi kebahagiaan dan semngat perjuangan untuk adik-adik kecil di sekitaran kawasan tempat tinggal kami terutama di RT kami. Semoga semangat muda itu akan terus bergelora, tak kan padam kecuali untuk menyala lebih terang.

BACA JUGA  Surat untukmu, Mahasiswa Baru

Ini bukan masalah organisasi apa yang kita ikuti, melainkan sejauh mana kontribusi yang telah kta sumbangkan bagi Negeri kita tercinta? Jangan sampai kita hanya menjadi manusia-manusia yang membuat Indonesia kian padat penduduk tanpa padat karya dan kotribusi. Jangan sampai kita hanya tumbuh menua dengan disibukkan oleh urusan akademik dan jenjang karier tanpa melihat sekeliling kita, tanpa beraksi untuk kebermanfaatan orang lain.

Wahai kita yang mengaku anak muda, bergeraklah! Ikutlah di wadah organisasi kepemudaan. Kembangkan jiwa kepimpinan kita. Tunjukkan karya, kontribusi dan prestasi kita untuk membangun negeri.
Wahai kita yang mengaku anak muda, bangkitlah! Jangan sampai kita hanya pandai melemparkan kritikan pada pemerintah sementara enggan menunaikan misi sebagai agent of change.

Wahai kita yang mengaku anak muda, jangan hanya pandai mengenang sejarah kemerdekaan! Tapi turutlah mengulang sejarah itu.. Yang kelak kan menjadi prasasati hidup kita bagi Indonesia.
Dan kini, Indonesia baru saja menapakkan usianya di angka 70. Adakah kita sebagai anak muda sudah mampu mengulang sejarah para pahlawan kemerdekaan di masanya? Ataukah kita hanya mampu mengenangnya?

Penulis: Eva Nadzia, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tagged , ,

Related Posts

Leave a Reply