SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Pengembangan Pendidikan Desa Cilebut Timur Cilebut-Bogor

Pelajar salah satu sekolah SD Islam di Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten. (Foto: Fajrul Islam)

Pelajar salah satu sekolah SD Islam di Kronjo, Kabupaten Tangerang, Banten (10/9). (Foto: Fajrul Islam/SuaraJakarta)

Desa Cilebut Timur RT 002 RW 08 merupakan salah satu desa yang dijadikan tempat KKN (Kuliah Kerja Nyata) oleh 5 orang mahasiswa USBI (Universitas Siswa Bangsa Internasional) yang berasal dari jurusan pendidikan. Desa Cilebut Timur merupakan Desa yang terletak di kabupaten Bogor. Letak desa ini tidak jauh dari stasiun Cilebut, biasanya para mahasiswa berjalan kaki dari stasiun Cilebut menuju ke Cilebut Timur RT 002 RW 08. Jika kita ingin menuju ke Desa ini, sebaiknya kita berjalan kaki dari Stasiun Cilebut atau dapat menggunakan sepeda motor, hal ini dikarenakan jalan di Desa ini tidak dapat dilewati oleh mobil. Mobil bisa mengantar hanya sampai di depan gang saja.

Desa ini memiliki lebih dari 100 kepala keluarga, dan jarak antar satu rumah ke rumah yang lain sangat berdekatan. Hal tersebut membuat Desa ini memiliki jalinan kekeluargaan yang erat antar warganya. Tidak mengenal tua ataupun muda mereka berbaur satu sama lain. Biasanya para warga sering berkumpul dan bersenda gurau di rumah ketua RT 002 RW 08. Ketua RT Pak Asalam atau yg akrab dipanggil pak Alam sangatlah ramah dan memperhatikan warganya. Hal tersebut membuat kami lebih mudah untuk memperkenalkan program yang kami buat untuk Desa ini.

Adapun program KKN yang telah terlaksana di Desa ini antara lain adalah seminar parenting dan mengaktifkan kembali TPA yang telah ada menjadi taman bacaan. Seminar parenting telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 10 Januari 2015 dengan pembicara Ibu Henny Supolo yang merupakan ketua Yayasan Cahaya Guru. Seminar dengan tema “pentingnya pendidikan bagi anak” ini membahas bagaimana sebaiknya orangtua mendidik anak mereka pada zaman sekarang. Mulai dari hal sepele seperti bagaimana sebaiknya orangtua ketika hendak menyuruh anak mereka untuk melakukan sesuatu. Ibu Henny juga memberikan 3 kata kunci ketika berbicara kepada anak yaitu tolong, maaf dan terima kasih. Ketiga kata ini mungkin terlihat sepele, namun sadar atau tidak kadang orangtua lupa menyelipkan kata tersebut. Pada seminar tersebut, warga juga diberitahu bahwa belajar bukan melulu harus disekolah, belajar dapat dilakukan di lingkungan sekitar. Sebagai contoh ketika orangtua mengajak anaknya untuk pergi ke warung untuk membeli gula dengan harga Rp.5000,-, maka secara tidak langsung orangtua telah mengajarkan kepada anak jalan yang harus ia lalui ketika ingin pergi ke warung. Ketika suatu saat si anak tersebut diminta untuk membeli gula ke warung, maka ia diharapkan bisa pergi sendiri dan ketika di warung ada kenaikan dari harga awal maka anak secara tidak langsung telah belajar untuk mengamati. Contoh lain yang diberikan Ibu Henny tentang pengajaran dengan lingkungan sekitar adalah mengenal desa tempat anak tersebut tinggal. Anak dapat memperoleh informasi tentang desanya dari orang yang telah lama tinggal di desa tersebut. Kebetulan pada seminar tersebut hadir Ibu Juju yang telah 30 tahun lebih tinggal di Cilebut Timur RT 002 RW 08. Dari Ibu Juju anak dapat mempelajari bagaimana suasana Desa Cilebut Timur RT 002 RW 08 tempo dulu, bagaimana tradisi warga dari waktu ke waktu.

BACA JUGA  Membuang (Budaya Asing) KAMMI Pada Tempatnya

Setelah berbagi ilmu mengenai bagaimana belajar melalui lingkungan, Ibu Henny mulai mengeluarkan beberapa gambar ekspresi wajah. Pertama diperlihatkan ekspresi muka sedih, marah, bahagia. Dari beberapa ekspresi muka yang telah diberikan, Ibu Henny memberikan refleksi kepada warga tentang masing-masing ekspresi wajah tersebut. Ketika orangtua mendapatkan ekspresi muka sedih atau marah dari anak, maka pasti ada yang salah sehingga mereka dapat memberikan ekspresi yang demikian. Ada satu pertanyaan dari warga yang mengatakan bagaimana cara menghadapi anak yang memiliki tingkat emosi yang tinggi? Ibu Henny menjawab bahwa anak tidak akan terus-terusan emosi, pasti ada saat dimana anak tersebut senang dan bahagia. Dalam situasi ketika anak bahagia itulah sebaiknya orangtua bertanya kepada anaknya “apa yang membuatmu bahagia? bagaimana cara supaya kami dapat melihatmu senang terus seperti ini?”

Setelah program pertama selesai terlaksana, maka tim KKN melanjutkan program kedua yaitu membuka taman bacaan kepada anak-anak di Cilebut Timur RT 002 RW 08. Tim KKN menggunakan TPA yang telah lama tidak dipergunakan warga sebagai taman bacaan. Tim KKN merenovasi TPA tersebut dengan mengecat ulang beberapa bagian dari bangunan itu, memberikan karpet sebagai alas duduk yang nyaman serta membuat rak kecil untuk menempatkan buku-buku. Tim KKN juga turun tangan langsung dalam sosialisasi ke warga agar mengajak anak mereka untuk datang ke taman bacaan dan belajar bersama mahasiswa di TPA yang baru. Hari pertama dibuka dengan pengajian dari ketua RT dan beberapa warga setempat agar selama belajar selalu aman dan nyaman dan setelah pengajian selesai anak-anak pun berdatangan. Tidak disangka antusias dari warga sangat baik, ini dapat terlihat dari jumlah anak yang hadir lebih dari 30 anak. Mahasiswa sedikit kewalahan dalam menangani mereka, karena jumlah tim yang tidak banyak. Beruntung mahasiswa mendapatkan bantuan dari remaja karang taruna Desa setempat yang dengan senang hati membantu untuk mengatur dan menertibkan anak-anak. Kurang lebih 1 jam 30 menit kami belajar dan bermain bersama anak-anak tersebut, mereka sangat senang. Harapan tim KKN ini adalah taman bacaan yang telah dibuat dan pengajaran yang telah dilakukan ini dapat berjalan terus dengan atau tanpa kehadiran mahasiswa. Semoga dengan ilmu pengetahuan yang telah mahasiswa bagikan dapat membuat Desa ini menjadi lebih maju dan berkembang lagi.

BACA JUGA  Aksesibilitas Masyarakat Terhadap Narkoba

Penulis: Fransisca Felicia, mahasiswa Fakultas Pendidikan Matematika Universitas Siswa Bangsa Internasional

Tagged ,

Related Posts

Leave a Reply