SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Pemuda Berikat Kepala Sunda

Walkot Bandung, Ridwan Kamil menggunakan ikat kepala khas Sunda. (Foto: istimewa)

Hari ini saya akan bercerita sedikit panjang dari biasanya. Cerita tentang cara saya merayakan hari pendidikan nasional yang jatuh pada hari ini. semoga bisa menjadi sedikit pengantar inspirasi untuk cerita-cerita lainnya …

Ceritanya kemarin saya berangkat ke pelatihan Forum indonesia Muda 17 di Taman Wiladatika untuk bertemu dengan sahabat-sahabat FIM saya ( dinda [ menteri pengembangan masyarakat BEM KM UNAIR 2015] dan Rora [ ex-Kepala Fundrising PPI Univ Kebangsaan Malaysia]). Saya sengaja ke Cibubur hanya untuk bertemu mereka, walaupun kami bertemu di akhir-akhir kepergian saya kembali ke Kota Hujan. Namun sebelum pulang, saya mendapat materi yang cukup menginspirasi dari Pak Rhenald ( Rumah Perubahan) yang berisi ” Jodoh itu akan kita dapatkan kalau kita bergerak “. Disana saya terinspirasi untuk melakukan sebuah leadership tour , tapi bukan untuk mencari jodoh atau akhwat strategis seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya. Melainkan mencari secarik nilai kepemimpinan. Karena saya menyadari bahwa jodoh terdekat saya hari ini adalah kepemimpinan itu sendiri. Menikahlah dengan kepemimpinan maka kau akan menjadi seorang pemimpin. Akhirnya di FIM saya memutuskan untuk pulang ke Bogor dan melakukan leadership tour sekaligus riset kepemimpinan di sini

Singkat cerita esoknya (hari ini) saya memutuskan untuk melakukan #leadershiptour berkeliling Kota Hujan. Tidak dengan angkutan umum, motor ataupun bus mini yang biasa saya gunakan setiap saya pulang, melainkan dengan sedikit berlari-lari kecil sambil menikmati indahnya pagi Kota Hujan ini. Awalnya saya mau berangkat jam 05:00 WIB, namun karena saya berada di asrama PPSDMS. Saya tidak bisa serta merta berangkat jam segitu, setiap bada subuh ada tanggung jawab untuk membaca almatsurat dan sedikit mendengarkan riyadus shalihin. Saya pikir mungkin saya berangkat jam 06:00 WIB. Tapi jadwal keberangkatan saya pending kembali karena ternyata hari ini adalah hari sabtu, hari dimana grup saya mempunyai agenda Tahsin-Tahfidzul Quran sampai jam 06:30 WIB. Singkat cerita semua agenda PPSDMS sudah beres. Disana saya tidak langsung berangkat, saya mencoba menepati komitmen yang saya tempel di dinding untuk terus mengembangkan diri. empat dari lima belas komitmen tersebut adalah berpenampilan ganteng, melaksanakan Shalat dhuha minimal enam rakaat. meng-update pengetahuan negeri ini dengan membaca koran, dan membuka akun media sosial. Saya yakin pemimpin yang kita butuhkan hari ini adalah pemimpin yang dekat dengan media sosial dan bisa terus mengabari orang-orang yang dipimpinnya disana. Komitmen ini mulai saya lakukan beberapa hari kemarin. Setelah terlaksananya empat komitmen tersebut akhirnya saya putuskan untuk berangkat jam 07:30 WIB. Sebenarnya saya harus menjadi delegasi jurusan untuk upacara di kampus, tapi saya menolak dan menjawab bahwa saya punya cara tersendiri dalam merayakan hari pendidikan nasional.

BACA JUGA  Keren! Ridwan Kamil Siap Bangun Kereta Super Cepat Jakarta-Bandung

Setiap harinya kita pasti akan diposisikan untuk memilih peran. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Hari ini saya tidak mengambil peran sebagai aktivis yang mengurusi organisasi, atau sebagai akademisi yang mengerjakan tugas-tugasnya, atau sebagai penulis di media sosial. Hari ini saya memilih peran menjadi anak muda yang berdomisili di Bogor yang ingin mendidik dengan keteladanan. Direktur beasiswa saya berkata bahwa ia tidak akan meminta para penerima beasiswa mengerjakan sesuatu sebelum ia pernah mengerjakan sesuatu itu. Karena sebaik-baiknya bahasa adalah aksi nyata. Terinspirasilah saya untuk memberikan contoh dengan bahasa keteladanan. Keteladanan yang saya lakukan mungkin tidak begitu keren. Tapi saya mencoba melakukan hal kecil itu. Saya hanya lari-lari kecil dengan menggunakan ikat kepala bercorak batik pemberian adik kelas saya dari UNPAD saat FIM 16. Maksud saya tidak terlalu besar, saya berharap dengan saya berlari-lari kecil mengeliling Bogor Raya dengan menggunakan ikat kepala tersebut, orang-orang bogor bisa juga ikut terinspirasi membudayakan budaya kebaikan ini. Bukankah sebaik-baiknya mendidik adalah dengan memberikan contoh (keteladanan) ?

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan !

singkat cerita saya mulai melaksanakan leadership tour saya jam 07:30 WIB. Suasana pagi ini memang masih terasa sejuk. Jalanan pagi yang biasanya macet, begitu sangat sepi. Terik matahari yang hangat masih sangat terasa. Sangat berbeda dengan biasanya. Sambil menikmati suasana yang jarang tersebut, saya terus melanjutkan lari-lari kecil saya. Selama di perjalanan tidak sedikit orang yang melihat dengan pandangan heran dengan ikat kepala yang saya pakai. Ada yang bertanya, ada yang tersenyum, ada yang berpandangan aneh, hingga ada yang acuh tak acuh. Tapi saya tidak terlalu memperdulikannya. Saya tetap percaya diri dan terus melanjutkan leadership tour saya. Sebelum berangkat, sebenarnya saya mengajak satu teman saya untuk ikut leadership tour, hanya saja ia bilang ia harus mengerjakan sesuatu yang prioritas. Konsepnya sederhana saja, teman saya mengerjakan prioritas jangka pendek, sedangkan saya mengerjakan prioritas jangka panjang

BACA JUGA  Meriahnya Gelaran Festival Budaya Jepang Ennichisai 2015

Kembali lagi ke cerita. Ikat kepala itu masih saya pakai hingga ke Baranang Siang, saya memang tidak punya tujuan khusus dari lari-lari kecil saya tersebut. Saya hanya ingin mengetahui bagaimana kabar Kota Hujan hari ini. Dari mulai melewati stasiun, gedung istana yang biasa saya teriak-teriak di depannya ( aksi ), hingga pedestrian yang membuat unik kota ini. Ternyata kota tempat tinggal saya sekarang menyimpan berjuta keindahan di dalamnya

Dari Baranang Siang, saya membalik arah dan bersiap-siap untuk kembali ke asrama. Tetap dengan mengkampanyekan budaya kebaikan ikat kepala sunda tersebut, saya kembali berlairi-lari kecil. Tapi sekarang saya melewati rute perjalanan yang berbeda dengan rute saat saya berangkat. Terik matahari mulai terasa panas, terkadang kaki mulai sakit. Tapi saya tetap melanjutkan leadership tour. Berbeda dengan waktu saya berangkat. Jalanan macet, asap knalpot dimana-mana, teriknya matahari makin terasa. Berkali-kali idealisme saya untuk tetap lari-lari kecil hampir luntur. Terbesit di benak saya untuk naik angkutan umum. Tapi disana saya mencoba melawan godaan-godaan itu hingga akhirnya alhamdulillah saya bisa tetap mempertahankan idealisme kebaikan tersebut. Singkat cerita saya sampai di asrama pada pukul 12.00 WIB. Disana saya baru menyadari bahwa saya telah melakukan lari-lari kecil selama 4,5 jam hanya untuk berkeliling Bogor. Walaupun begitu, saya bangga bisa melakukan leadership tour di kota tercinta ini

value yang saya maksud disini adalah bahwa saya ingin mengembalikan kembali budaya sunda yang sudah mulai terkikis di kota ini. Perlu kita ketahui bahwa akhir tahun ini kita akan menghapi AEC 2015. Artinya kita harus menyiapkan amunisi-amunisi kita menghadapi kondisi demikian, termasuk menyiapkan budaya pribumi kita. Perlu juga kita ketahui bahwa budaya sunda akan bersaing dengan budaya global yang masuknya lebih gampang kebanding tahun-tahun sebelumnya. Dear para penduduk Kota Hujan, #yuk! kita budayakan budaya kebaikan sunda lagi.
” saha deui anu bakal ngamumule budaya sunda ari lain urang-urang deui mah ”

BACA JUGA  Bumbu Cinta

Pedestrian Kota Bogor, 2 Mei 2015

Penulis: Ryan Frizky, Orang Sunda Asli | Forum Indonesia Muda 16 | PPSDMS VII.5

Tagged , , , ,

Related Posts

Leave a Reply