SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Kabut Asap, Siapa Peduli?

Foto: smeaker.com

Sudah tidak terhitung lagi jumlah hari sejak bermulanya bencana kabut asap di negeri ini. Bencana yang disebabkan oleh pembakaran hutan dan lahan ini masih terus berlangsung dan belum ada tanda-tanda akan berhentinya kabut asap ini. Dua pulau di Indonesia, yaitu Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan, menjadi saksi bisu atas bencana besar ini. Sebagian provinsi di Sumatera dan Kalimantan telah meningkatkan status daerahnya menjadi darurat kabut asap. Kebijakan ini tidak terlepas dari semakin tebalnya kabut asap yang melanda daerah-daerah tersebut.

Bagi masyarakat yang berada di daerah tersebut, jelas ini merupakan bencana yang sangat mengganggu keberlangsungan hidup mereka. Banyak aspek akan merasakan akibat dari kabut asap ini. Ekonomi daerah ini dipastikan amburadul dikarenakan terganggunya segala aktivitas ekonomi. Belum lagi dampak yang terjadi di bidang kesehatan. Mau tak mau sekolah terpaksa diliburkan. Tebalnya kabut asap membuat segala aktivitas terbengkalai. Tidak hanya itu, sudah banyak warga yang terkena penyakit pada saluran pernapasan mereka.

Kabut asap ini ternyata tidak hanya melanda Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera. Namun, kabut ini juga telah sampai ke negeri tetangga. Sebut saja ke negara Singapura dan Malaysia. Bahkan, di Singapura sekolah-sekolah juga terpaksa diliburkan untuk menjaga kesehatan sistem pernapasan para anak didik mereka. Singapura pun sudah berang dengan kiriman kabut asap dari Indonesia. Singapura juga telah memberikan tawaran bantuan untuk mencegah dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan ini.

Kebakaran hutan sudah menjadi masalah tahunan di negeri ini. Jika ditelusuri penyebab terjadinya kebakaran hutan ini, ini tak terlepas tindakan oknum-oknum tak bertanggung jawab yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Oknum-oknum ini tentu bekerja tidak sendirian. Para oknum ini tentu mendapat arahan dari ‘atasan’-nya untuk melakukan ini. Rendahnya pengawasan terhadap hutan Indonesia juga menjadi alasan mengapa bencana ini sangat gampang terjadi.

BACA JUGA  Tidak ingin Berbagi Penyakit

Siapa Peduli? Tindakan Pemerintah, Publik Sektor

Siapa yang peduli dengan kabut asap ini? Siapa yang harusnya dimintai pertanggungjawaban atas musibah besar yang tak henti ini? Seharusnya tiap sektor di negeri ini memberikan andilnya. Mulai dari sektor publik, sektor private, dan sektor ketiga. Pemerintah secara massif harus meningkatkan upaya penanggulangan terhadap kabut asap ini. Mulai dari upaya pencegahan hingga upaya memberikan punishment kepada orang-orang tak bertanggung jawab. Begitu juga dengan sektor-sektor lainnya.

Sebagai akademisi, mahasiswa tidak boleh tinggal diam menyikapi bencana ini. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang-orang berpendidikan seperti mahasiswa. Bentukan bisa macam-macam. Bisa dilakukan dengan kampanya pentingnya hutan di bumi ini. Kemudian memberikan penyadaran pada masyarakat. Bisa juga dengan memantau pemerintah untuk membuat regulasi terkait hutan dan banyak hal lainnya.

Mari sama-sama kita jadikan bencana ini sebagai pelajaran berharga. Jangan sampai kejadian hari ini menjadi tak berarti disebabkan tidak adanya tindak lanjut dan aksi nyata dari kita semua.

Penulis: Muaz Almunziri, Mahasiswa Teknik Geofisika ITB 2013

Tagged ,

Related Posts

One thought on “Kabut Asap, Siapa Peduli?

  1. Jess

    Bukan masalah siapa yang peduli lagi disini, tapi lebih kepada SIAPA YANG HARUS BERGERAK DULUAN!!..

    Cobalah jadi masyarakat cerdas yang tak harus terus menerus menyalahkan pemerintah atas kejadian seperti ini. Daripada berkoar-koar siapa yang disalahkan lebih baik kita mulai dari diri kita dulu!..

    Seperti yang telah dilakukan oleh rekan kita di Palembang, mereka membagikan kurang lebih 2000 masker kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan.

    http://citragrandcity.com/peduli-kabut-asap-citragrand-city-bagikan-2000-masker/#

    semoga kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang membca agar tak selalu menunggu orang lain yang melakukan, mulailah dari diri kita dulu

Leave a Reply