SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Bernama Minangkabau, Sekarang Dimana Engkau?

Pertunjukan randai di kampus ITB dimainkan oleh mahasiswa minang di kampus ITB. (Foto: Silvany Dewita)

SuaraJakarta.co – BERBICARA tentang budaya Minangkabau sangat erat kaitannya dengan cara hidup masyarakatnya baikitu dalam berpiki rmaupun bertindak. Orang-orang Minangkabau dinilai memiliki kebudayaan yang khas dengan alam disekelilingnya yang ditanamkan dari kecil agar terbentuk karakter masyarakat khas Minangkabau tersebut. Sebutlah tokoh-tokoh Minangkabau seperti Buya Hamka, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Agus Salim, Natsir telah menghasilkan karya mereka masing-masing, baik itu berupa ide, tindakan, maupun kepribadian hebat yang memang sudah diakui oleh dunia. Zaman sekarangpun orang-orang masih menilai Minangkabau memiliki budaya sendiri yang sangat mempengaruhi pola belajar, pola berkesenian, pola komunikasi dan pola kehidupan yang dijalani masyarakat Minangkabau baik itu di daerah asalnya maupun di daerah perantauan. Namun apakah semua hal itu masih terasa oleh orang-orang Minangkabau masa kini?

Dalam belajar pada masyarakat Minangkabau dikenal adanya surau. Dulunya surau merupakan elemen penting yang sangat berpengaruh sehingga orang orang dahulu mampu berkarya sedemikianrupa. Hal ini mengacu pada budaya masyarakat dimana setiaplelaki di Minangkabau yang beranjak dewasa sudah malu untuk tinggal di rumah ibunya, sehingga mereka memutuskan untuk tinggal di surau. Di sanalah mereka dapat mengkaji banyak hal sehingga terlatih pemikirannya untuk menganalisis suatu hal. Selain pola surau, terdapat pula pidato adat yang diajarkan pada anak laki-laki dan anak perempuan sehingga mereka dibiasakan untuk berani berdiri berbicara di depan publik. Anak-anak perempuan belajar pidato manyerak bareh kuniang sedangkan anak laki-laki belajar pidato pasambahan. Lalu bagaimana dengan masa kini surau dan pidato adat?

Dalam pola kesenian, salah satu kesenian yang terkenal yang berasal dari Minangkabau adalah randai. Randai merupakan salah satu permainan tradisional di Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambal menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara berganti-gantian. Randai menggabungkan seni lagu, musik, tari, drama dan silat menjadi satu. Randai adalah kesenian yang memiliki nilai demokrasi tertinggi di Minangkabau sebab penonton randai menyaksikan pertunjukan tersebut secara melingkar sehingga semua penonton dianggap sama oleh seluruh pemain randai. Hal ini tak seperti pertunjukan kesenian yang lain namun sayang tak begitu dipahami pada masa kini.

BACA JUGA  Meriahnya Gelaran Festival Budaya Jepang Ennichisai 2015

Selanjutnya adalah kehidupan orang-orang Minangkabau diperantauan.Merantau sudah menjadi hal yang sering dilakukan oleh orang-orang Minangkabau dari dahulu hingga sekarang. Dengan merantau,ada orang-orang Minangkabau yang mencoba mencari kehidupan yang lebih baik, belajar lebih banyak sebab kehidupan di perantauan tentunya akan berbeda dengan kehidupan ketika berada di daerah asal, yakni tanah Minangkabau. Seperti falsalah Minangkabau yang ada “dimabumidipijak, disinanlangikdijunjuang”. Orang-orang Minangkabau berbaur dengan orang-orang asli daerah tempat mereka merantau dengan selalu mempertimbangkan nilai-nilai asli daerah setempat namun tetap mempertahankan nilai-nilai Minangkabau yang mereka bawa dari kampong halaman. Begitulah dahulunya yang dilakukan oleh orang-orang Minangkabau di perantauan, seharusnya begitu pula yang terjadi sekarang.

Masih banyak lagi hal-hal yang mencakup Minangkabau. Sebab alam adalah luas cakupannya. Dan pikiran hari esok haruslah lebih tinggi dari pada hari kini. Begitulah Minangkabau

Penulis: Silvany Dewita, Mahasiswa Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.

Tagged , ,

Related Posts

Leave a Reply