Baca Sastra Indonesia, Baca Berbudaya - SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

SuaraJakarta.co | Media Ibukota Indonesia

Baca Sastra Indonesia, Baca Berbudaya

Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Pada bulan Oktober ini, perlu kita ingat bahwa bahasa Indonesia, sebagai bahasa persatuan dikumandangkan dan merupakan salah satu isi dari Sumpah Pemuda. Namun, untuk menyambut Sumpah Pemuda, banyak permasalahan yang muncul mengenai bahasa. Semangat yang kita lihat sekarang bukan merupakan semangat nasionalisme untuk menjaga bahasa Indonesia agar tidak luntur. Minat baca sastra termasuk salah satu hal yang harus dibudayakan untuk menjaga bahasa Indonesia.

Budaya baca di Indonesia seakan-akan mulai luntur saat ini. Keberadaan gadget, televisi, internet, dan game online memperparah semua itu. Remaja sekarang lebih banyak memberikan perhatian kepada hal baru tersebut dan seakan-akan melupakan sumber jendela dunia, yaitu buku. Jika, berbicara mengenai buku, pasti berhubungan dengan sastra. Bahan baca sastra yang tidak luput membicarakan kehidupan masyarakat di Indonesia ini mulai ditinggalkan. Budaya membaca sastra seakan-akan hilang ditelan zaman.

Rendahnya minat baca sastra merupakan hal yang paling mendasar. Kebiasaan yang selalu dilakukan remaja sekarang adalah hal yang praktis. Dengan cara copy-paste di internet dianggap lebih mudah dibandingkan membaca. Kita tidak tahu bahwa manfaat dari membaca itu sangat banyak, selain mendapatkan pengetahuan baru, membaca membuat kita berpikir kritis terhadap semua hal, dan tidak menerima secara langsung.
Banyak bacaan sastra yang mengandung nilai moral dan dapat dijadikan acuan akan kehidupan. Sebagai pemuda yang mengetahui arti dan makna dari Sumpah Pemuda seharusnya budaya baca tidak ditinggalkan.

BACA JUGA  Ada 'Kelas' Khusus di Sekolah?

Pembacaan Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 1928 seharusnya mendorong minat baca remaja di Indonesia. Mulai dikumandankannya Sumpah Pemuda yang berbicara mengenai bahasa Indonesia, bahasa persatuan, dari sanalah mulai banyak penggunaan bahasa Indonesia dalam karya sastra Indonesia. Dari sanalah mulai semangat baru pemuda dalam membaca karya sastra Indonesia. Jika tidak ditunjang dengan baca berbudaya yang artinya mulai membudayakan baca, sama saja akan membuat lunturnya bahasa Indonesia.
Kesusastraan Indonesia hadir mulai dari bacaan berbahasa Melayu yang merupakan tonggak bahasa Indonesia saat ini. Selanjutnya dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda mulailah bermunculan karya sastra Indonesia berbahasa Indonesia. Semangat membaca dan menulis sangat tinggi saat itu. Semangat yang tinggi oleh pemuda menjadikan budaya baca itu ada.

Remaja saat ini hanya mengerti bacaan, seperti komik, novel remaja, dan sebagainya. Penghargaan kepada bahasa Indonesia kini semakin pudar dan ketertarikan kesusastraan Indonesia pun kini semakin menipis. Hampir semua remaja tidak ada yang tahu novel-novel yang pernah terkenal dulunya. Padahal dengan mengetahui novel-novel zaman dahulu akan membantu mengetahui kehidupan dan sejarah bangsa Indonesia.
Bangsa Indonesia ini membutuhkan pemuda yang pintar untuk bangsanya. Jika tidak ada yang memperkenalkan budaya baca, tidak akan ada orang yang pintar, dan akan gampang dibodoh-bodohi oleh bangsa lain. Baca adalah jendela dunia karena membaca akan mempermudah kita untuk melakukan apa saja, bahkan kita dapat lebih pintar dari orang asing.

Baca sastra berhubungan dengan jendela dunia. Sastra tidak lepas dengan perbincangan kehidupan, masyarakat, dan lain hal. Tidak ada salahnya jika kita mulai menghargai kesusastraan Indonesia dengan membacanya. Tidak ada salahnya jika kita mulai membaca kesusastraan Indonesia dengan membaca kesusastraan lama agar tidak dibodohi sejarah. Tidak ada salahnya jika kita juga mulai budayakan membaca untuk penerus kita nantinya.

BACA JUGA  Angkot Fest, Solusi Kreatif Pemerintah Atasi Permasalahan Sosial Angkutan Umum di Bogor

Membaca sebagai tonggak bangsa Indonesia di masa depan. Cerita lisan dari zaman nenek moyang hingga sekarang masih terus ada dan harus terus dilestarikan. Nenek moyang kita bercerita dengan menggunakan media dari mulut ke mulut. Setelah itu muncul tulisan dengan menggunakan huruf Jawi, selanjutnya sekarang adanya huruf Latin lebih mempermudah kita dalam membaca. Jadi, semuanya sudah dimudahkan, tinggal semangat dari pemuda yang harus ditingkatkan.

Tidak perlu bertele-tele untuk mengusahakan bangsa Indonesia maju. Sebagai orang yang berpendidikan tinggi seharusnya kita berpikir dengan cara yang praktis, bukan melakukan apapun dengan cara praktis. Maka dari itu, mulailah berusaha memajukan bangsa Indonesia dengan semangat berpikir layaknya seorang pemuda. Banggalah menjadi pemuda Indonesia dan mulailah membaca. Budayakan membaca karena membaca dapat membuat semua orang pintar. Maju terus bangsa Indonesia. Budaya baca sastra Indonesia, budayakan baca!

Penulis: Lenggogeni Zakiyami, Mahasiswa Universitas Indonesia

Tagged ,

Related Posts

Leave a Reply